Sandwich Generation dan Utang yang Datang Pelan-pelan: Awalnya Nolong, Akhirnya Tergulung

 

Ilustrasi seorang pria duduk tertunduk di meja makan, ada tumpukan tagihan, nuansa depresi.
Ada peribahasa lama bilang, "Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit."

Biasanya peribahasa itu dipake buat motivasi nabung. Tapi buat gue, dan mungkin buat jutaan sandwich generation lain di Jakarta, peribahasa itu lebih cocok buat ngegambarin utang.

Utang itu nggak dateng kayak tsunami yang tiba-tiba ngehantam rumah lo sampe ancur dalam sekejap. Enggak, Bro. Utang di kalangan kita para penanggung beban keluarga, datengnya kayak rayap.

Awalnya nggak keliatan. Awalnya cuma bunyi krek-krek kecil di tiang pintu. Awalnya cuma serbuk kayu dikit di lantai. Tapi tau-tau, pas lo senderan dikit, satu rumah rubuh.

Gue nulis ini di tengah malem, sambil mandangin plafon kontrakan yang catnya mulai ngelupas. Di kepala gue muter satu pertanyaan: "Kapan ya gue mulai punya utang sebanyak ini?"

Dulu, pas baru nikah dan gaji masih UMR, gue hidup pas-pasan tapi tenang. Nggak punya tabungan, tapi nggak punya utang. Tidur nyenyak.

Sekarang? Tidur gue gelisah. HP gue silent 24 jam karena takut ada nomor asing nelpon.

Gue mau cerita gimana proses "pembusukan" finansial ini terjadi. Biar lo yang belum kejebak, bisa pasang rem tangan dari sekarang. Dan biar lo yang udah kejebak, tau kalau lo nggak gila sendirian.

Fase 1: Ilusi "Aman" di Zona Kritis

Banyak orang kejebak utang bukan karena mereka bodoh atau boros. Tapi karena mereka hidup di "Pinggir Jurang" terlalu lama tanpa sadar.

Gaji UMR Jakarta 5 jutaan. Pengeluaran rutin (anak, istri, orang tua) 5 jutaan. Sisa: Nol.

Selama berbulan-bulan, gue ngerasa aman. "Yang penting nggak minus," pikir gue. Gue bangga bisa manage cashflow sampe abis bersih tiap bulan tanpa ngutang.

Padahal, kondisi "Gaji Pas = Pengeluaran Pas" itu adalah bom waktu. Kita cuma butuh satu pemicu kecil buat ngeledakin semuanya.

Dan pemicu itu dateng bukan dari gue pengen beli iPhone atau sepatu mahal. Pemicu itu dateng dari rasa cinta dan tanggung jawab.

Fase 2: Pintu Masuk Bernama "Bakti Anak"

Utang pertama gue terjadi dua tahun lalu. Nominalnya kecil, cuma 500 ribu.

Waktu itu Ibu di kampung sakit gigi parah. Giginya harus dicabut dan gusi bengkak. Di Puskesmas desa antriannya panjang dan alatnya kurang lengkap. Ibu nelpon sambil nangis nahan sakit.

Gue panik. Gaji udah abis buat bayar kontrakan. Tabungan? Jangan tanya.

Akhirnya, gue liat iklan di aplikasi ojek online: "Paylater, aktifkan sekarang, cair 5 menit!"

Tanpa pikir panjang, gue aktifkan. Cair 500 ribu. Gue transfer ke Ibu buat ke dokter gigi swasta di kota kecamatan. Ibu sembuh, gue lega.

"Ah, cuma 500 ribu. Bulan depan bisa lah gue sisihin dikit buat bayar," pikir gue saat itu.

Itulah jebakan pertamanya. Otak kita meremehkan angka kecil. Kita lupa kalau bulan depan, kebutuhan kita TETAP 5 juta. Kalau gaji kita dipotong bayar utang 500 ribu plus bunga, berarti bulan depan kita bakal KURANG 600 ribuan buat hidup.

Terus nutup 600 ribuan itu pake apa? Ya pake utang lagi.

Fase 3: Lingkaran Setan Utang Keluarga

Setelah pintu paylater kebuka, rasanya jadi gampang banget buat "gesek" lagi.

Bulan depannya, Bapak butuh kacamata baru. Harganya 300 ribu. Gesek lagi. Bulan depannya lagi, ponakan sunatan. Masa Pakde dari Jakarta nggak ngasih amplop? Malu dong. Tarik tunai lagi 300 ribu.

Lama-lama, utang keluarga ini numpuk. Limit paylater gue yang awalnya cuma 2 juta, naik jadi 10 juta karena gue dianggap "nasabah lancar" (lancar minjem, lancar bayar minimum payment).

Gue mulai ngerasa ada yang salah pas total tagihan bulanan gue nyentuh angka 1,5 juta. Gaji 5 juta. Utang 1,5 juta. Sisa 3,5 juta.

Padahal kebutuhan hidup gue, anak istri, dan orang tua butuh 5 juta. Defisit 1,5 juta tiap bulan.

Di titik ini, gue mulai panik. Gue mulai cari aplikasi lain. Si Hijau, Si Oren, Si Merah. Semua gue install.

Tujuannya mulia: Buat nutup lubang yang lama biar nggak didatengin debt collector. Realitanya: Gue lagi ngegali kuburan gue sendiri makin dalem.

Gue pernah bahas soal fenomena sandwich generation dan utang yang datang pelan-pelan di tongkrongan, dan ternyata hampir semua temen gue ngalamin pola yang sama. Polanya selalu: Masalah Keluarga -> Gak Tega -> Ngutang -> Gali Lubang.

Fase 4: Psikologi "Nanti Diganti"

Ada satu budaya toxic di keluarga kita yang bikin sandwich generation makin bonyok: Budaya "Nanti Bapak/Ibu ganti kalau panen" atau "Pake dulu uang kamu, nanti diganti sama kakak/adik".

Gue sering banget dapet janji manis ini. "Le, pinjem dulu 2 juta buat benerin motor Bapak. Nanti kalau padi udah dipanen, Bapak ganti."

Gue, sebagai anak yang berbakti dan nggak tegaan, nyari pinjaman kilat tenor 30 hari. Bunga 10%. Gue kirim 2 juta. Tagihan gue bulan depan jadi 2,2 juta.

Pas jatuh tempo, gue tanya Bapak. "Waduh Le, harga gabah anjlok. Belum ada uang."

Gue nggak mungkin marah sama Bapak gue sendiri. Gue nggak mungkin nagih kayak rentenir ke orang tua. Akhirnya? Gue yang nanggung utang itu sendirian. Bunga berbunga. Denda jalan terus.

Kalimat "Nanti diganti" itu seringkali cuma penenang sesaat. Realitanya, ekonomi orang tua kita di kampung lebih parah dari kita. Mana mungkin mereka ganti? Kita aja megap-megap.

Fase 5: Dampak Mental Saat Gaji Habis

Sekarang, kondisi gue ada di fase gaji habis cuma buat bayar bunga dan cicilan.

Begitu tanggal 25, gaji masuk. Otomatis didebit bank. Otomatis ditransfer ke akun-akun pinjol. Dalam waktu 1 jam, saldo gue balik ke angka ratusan ribu.

Rasanya? Kosong. Gue kerja sebulan penuh, berangkat subuh pulang malem, dimaki bos, kena macet, kehujanan... tapi gue nggak ngerasain hasil keringet gue sendiri.

Dampaknya ke mental gila banget, Bro.

  1. Gampang Marah: Gue jadi sumbu pendek. Anak nangis dikit, gue bentak. Istri nanya "Yah, uang belanja mana?", gue emosi. Padahal mereka nggak salah. Gue yang salah ngatur duit.

  2. Insomnia: Tiap malem gue itung-itungan di awang-awang. "Besok jatuh tempo aplikasi A, duit dari mana ya?"

  3. Menarik Diri: Gue nggak berani nongkrong. Gue takut diajak patungan beli kado temen, atau sekadar bayar parkir. Gue jadi alien di lingkungan gue sendiri.

Gue sempet ada di titik putus asa. Gue ngerasa hidup gue cuma buat nyicil utang orang lain (keluarga). Gue pernah curhat panjang soal cara bertahan hidup sebagai sandwich generation, tapi prakteknya pas udah kelilit utang itu jauh lebih berat dari teorinya.

Fase 6: Realita "The Darkest Hour"

Puncak dari kegelapan ini adalah ketika gue mulai telat bayar. Galbay.

Telepon mulai berdering. WA mulai masuk dengan nada ancaman. "Bayar atau data Anda kami sebar ke kontak darurat!"

Di situlah gue sadar, gue nggak bisa terus-terusan jadi pahlawan keluarga kalau gue sendiri lagi sekarat. Lo nggak bisa nolong orang tenggelam kalau lo sendiri nggak bisa berenang dan kaki lo lagi kram.

Gue akhirnya ngambil langkah ekstrem yang seharusnya gue lakuin dari dulu: Jujur Brutal.

Gue kumpulin istri. Gue telepon orang tua. Gue bilang sambil nangis: "Pak, Bu, Ma... Aku nyerah. Utangku udah sekian puluh juta. Gaji udah nggak cukup. Mulai bulan ini, aku stop kirim uang ke kampung. Aku harus fokus lunasin utang dulu sebelum rumah tangga aku hancur."

Ibu nangis. Bapak diem. Istri syok. Tapi itu harus dilakuin.

Penutup: Jangan Jadi Lilin yang Membakar Diri

Buat lo yang baca ini dan ngerasa "Wah, ini gue banget, tapi utang gue masih dikit kok, masih aman."

STOP SEKARANG. Berhenti ngerasa aman. Utang 500 ribu hari ini adalah cikal bakal utang 50 juta tahun depan kalau lo nggak punya rem.

Menjadi sandwich generation emang mulia. Tapi jangan sampe lo jadi lilin. Lo menerangi orang lain (orang tua, keluarga), tapi lo sendiri habis terbakar dan meleleh sampai ilang.

Kalau orang tua minta dan lo nggak ada duit tunai (uang dingin), belajarlah bilang: "Maaf Pak, Bu, lagi nggak ada dana." Sakit emang ngomongnya. Tega emang kedengerannya. Tapi lebih baik lo jujur di awal daripada lo ngutang diem-diem, terus pas meledak lo nyusahin mereka juga karena didatengin debt collector.

Utang itu datengnya pelan-pelan, Bro. Halus banget. Dia masuk lewat celah kasih sayang, lewat celah tanggung jawab, lewat celah gengsi.

Tutup celah itu. Sayangi keluarga lo dengan cara yang waras. Jangan pake duit panas.

Semoga lo yang udah terlanjur basah, bisa cepet kering. Dan lo yang masih kering, jangan coba-coba nyemplung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar