Cara Bertahan Hidup Sebagai Sandwich Generation Gaji Pas-pasan: Seni Menyiksa Diri Demi Orang Tua dan Anak
Kalau ada penghargaan untuk "Pesulap Terbaik" di dunia, gue yakin pemenangnya bukan David Copperfield atau Deddy Corbuzier. Pemenangnya adalah kita, para karyawan Jakarta dengan gaji pas-pasan yang terjebak dalam kutukan sandwich generation.
Kenapa gue bilang pesulap?
Karena kita punya kemampuan magis buat ngubah gaji UMR 5 juta menjadi cukup untuk menghidupi tiga rumah tangga sekaligus: rumah kita sendiri (istri & anak), rumah orang tua di kampung, dan rumah masa depan (tabungan anak, kalau ada sisa, yang biasanya sih nggak ada).
Kita bisa membelah satu butir telur dadar jadi tiga bagian buat makan malem. Kita bisa memanjangkan napas dompet dari tanggal 15 ke tanggal 25 cuma bermodal doa, air putih, dan promosi minimarket.
Tapi, di balik "keajaiban" itu, ada realita yang berdarah-darah.
Banyak artikel keuangan dari financial planner ternama di luar sana ngasih tips ideal: "Sisihkan 20% untuk investasi, 30% untuk bayar cicilan, 50% untuk kebutuhan pokok."
Gue cuma bisa ketawa miris bacanya. Teori itu indah, Bro. Tapi buat sandwich generation kayak gue, teorinya beda jauh. Rumus gue di lapangan adalah: "Bayar dulu kebutuhan orang tua biar mereka nggak sakit, bayar kebutuhan anak biar dia nggak kurang gizi, sisanya baru gue pikirin gue makan apa."
Hari ini, gue mau bongkar habis-habisan gimana cara bertahan hidup di hutan beton Jakarta dengan beban ganda di pundak. Ini bukan tips motivasi kosong. Ini adalah panduan survival brutal yang lahir dari keterpaksaan dan keringat dingin tiap akhir bulan.
Fase 1: Membunuh Ego dan Gengsi Sampai Mati
Langkah pertama, dan paling menyakitkan buat bertahan hidup di kondisi ini adalah: Membunuh Ego.
Dulu pas masih bujang, gue punya ego laki-laki yang lumayan tinggi. Gue malu kalau sepatu gue butut. Gue malu kalau motor gue bunyi klotok-klotok di parkiran kantor. Gue malu kalau diajak nongkrong temen tapi cuma pesen es teh manis doang sementara yang lain pesen latte.
Tapi sejak nikah dan resmi jadi sandwich generation yang nanggung orang tua sakit-sakitan plus anak balita, ego itu gue kubur dalem-dalem di halaman belakang kontrakan.
Gue belajar buat jadi "tuli" dan "batu".
Temen kantor pamer sepatu running baru harga 2 juta? Gue senyumin aja sambil ngiket tali sepatu gue yang udah mau putus dan gue lem pake lem korea. Tetangga pamer abis liburan staycation ke Bali atau Puncak? Gue like fotonya di IG sambil ngitung recehan di celengan ayam buat beli token listrik yang udah bunyi.
Kenapa gue se-ekstrem ini? Karena gue tau matematika gue beda sama mereka. Uang 2 juta buat mereka itu "cuma" sepasang sepatu atau tiket pesawat. Buat gue? Itu biaya obat Bapak sebulan (300 ribu), plus susu anak dua kaleng (400 ribu), plus bayar kontrakan (1,3 juta).
Gengsi itu harganya mahal, Bro. Dan gue miskin. Jadi gue nggak mampu beli gengsi.
Kalau lo masih miara gengsi di posisi sandwich generation, kelar idup lo. Lo bakal kejerat pinjol demi validasi orang lain. Gue pernah hampir kepeleset di sana, untungnya gue sadar duluan sebelum terjebak utang gali lubang tutup lubang. Sekali lo masuk jurang itu, nggak ada jalan balik.
Fase 2: Strategi Makan Asal Kenyang (Bukan Asal Enak)
Salah satu pos pengeluaran terbesar yang bisa diakali adalah MAKAN.
Di Jakarta Pusat atau Selatan, sekali makan siang di kantin karyawan rata-rata 20 ribu sampai 25 ribu. Itu baru makan, belum minum es teh manis. Kalau sebulan (22 hari kerja), itu udah 500 ribu lebih. Belum kopi pagi, belum gorengan sore pas hujan. Bisa abis sejuta cuma buat "sampah" di perut.
Strategi gue buat hidup irit Jakarta adalah: Bawa Bekal Nasi Putih + Lauk Kering.
Istri gue, pahlawan tanpa tanda jasa. tiap subuh bangun buat masakin bekal. Bukan bekal bento lucu-lucu kayak di TikTok ya. Bekal gue brutal dan fungsional. Isinya nasi putih banyak (biar kenyang tahan lama), telor dadar (dibagi dua sama anak buat sarapan), sama orek tempe atau sambel teri kacang yang bisa tahan lama berhari-hari.
Kadang gue bosen? Banget. Rasanya lidah gue mati rasa makan menu yang sama. Kadang gue pengen beli Soto Betawi di depan kantor yang baunya nyegrak santen itu? Sering banget sampe nelen ludah.
Tapi tiap kali gue mau jajan, gue inget muka Bapak di kampung yang lagi nunggu kiriman obat. Gue inget muka anak gue yang susunya cepet banget abis.
Akhirnya, gue makan bekal itu di pantry kantor yang sepi sambil nonton YouTube gratisan pake wifi kantor. Rasanya? Enak kok. Rasa pengorbanan itu ada manis-manisnya (campur pait dikit).
Dengan bawa bekal, gue bisa neken biaya makan siang jadi nyaris nol (karena bahan masak masuk uang belanja bulanan). Uang transport gue ganti pake motor butut yang irit bensin, bukan ojek online yang harganya makin gila karena biaya layanan.
Fase 3: Menjadi "Bank Berjalan" Tanpa Bunga
Bagian paling tricky dari sandwich generation adalah ketidakpastian kebutuhan orang tua.
Kalau kebutuhan anak, masih bisa diprediksi. Susu abis tiap minggu, popok abis tiap dua minggu, bayar PAUD tiap tanggal 10. Tapi kebutuhan orang tua? Itu random banget kayak undian lotre.
"Le, genteng dapur bocor." (Butuh 300 ribu buat tukang & asbes). "Le, Bapak jatuh di kamar mandi, butuh urut." (Butuh 100 ribu). "Le, ada iuran desa buat Agustusan, malu kalau nggak bayar." (Butuh 50 ribu).
Mereka gak minta banyak sebenernya. Tapi sering. Dan karena gue anak laki-laki satu-satunya yang kerja di kota, gue adalah tumpuan harapan. Gue adalah "Bank Berjalan".
Masalahnya, bank ini sering offline alias saldo kosong.
Cara gue bertahan adalah dengan Pos Darurat Orang Tua. Begitu gaji masuk, gue langsung sisihin 200 ribu sampai 300 ribu di rekening terpisah (bank digital yang gak ada kartu ATM-nya biar susah diambil).
Uang ini HARAM gue pake buat beli rokok atau bensin. Ini uang "jaga-jaga" kalau Bapak/Ibu minta mendadak. Kalau bulan itu mereka gak minta? Alhamdulillah. Uangnya gue roll over ke bulan depan. Jadi lama-lama numpuk jadi 500 ribu, sejuta.
Ini ngebantu banget biar cashflow rumah tangga gue gak berantakan tiap ada telepon dari kampung. Gue pernah bahas detail soal pusingnya ngatur ini di artikel gaji UMR Jakarta dan tekanan hidup sandwich generation, di situ gue bedah angkanya lebih sadis lagi soal pos-pos siluman ini.
Fase 4: Musuh Terbesar Bernama "Undangan Nikah"
Ini realita yang jarang dibahas pakar keuangan, tapi sering bikin kita nangis darah. Namanya: Musim Kondangan.
Buat orang kaya, undangan nikah itu ajang silaturahmi dan pamer baju. Buat sandwich generation gaji pas-pasan? Itu ancaman defisit anggaran negara (rumah tangga).
Bayangin, gaji lo udah abis dibagi-bagi ke orang tua dan anak. Tiba-tiba di meja kerja ada 3 undangan nikah temen deket bulan ini. Standar amplop Jakarta (kalau di gedung) minimal 100 ribu biar nggak malu-maluin. Kalau temen akrab bisa 200 ribu sampai 300 ribu. Total: 300 ribu sampai 500 ribu melayang cuma dalam dua minggu.
Itu setara jatah susu anak dua minggu, Bro! Atau setara bayar listrik rumah orang tua sebulan!
Terus, gimana cara gue bertahan? Gue pake strategi "Seleksi Alam".
Gue mulai tega milah-milah undangan. Gue bagi jadi 3 Ring:
Ring 1 (Sahabat/Keluarga Deket): Wajib dateng, amplop normal. Ini investasi sosial dan persaudaraan.
Ring 2 (Temen Kantor/Temen Lama): Dateng kalau sempet, amplop standar (50 ribu - 100 ribu). Kalau nggak ada duit? Titip amplop sama temen lain (biar hemat bensin dan nggak perlu beli batik baru).
Ring 3 (Kenalan Jauh/Cuma Sekali Ketemu): Maaf, gue skip. Gue cuma kirim ucapan via WA: "Selamat ya Bro, sorry banget nggak bisa hadir, lagi ada acara keluarga/anak sakit."
Jahat? Mungkin. Pelit? Iya. Tapi gue lebih milih dibilang pelit sama kenalan jauh daripada gue ngutang pinjol cuma buat ngisi amplop. Prioritas gue adalah perut orang tua dan anak di rumah, bukan gengsi di gedung resepsi orang lain.
Fase 5: Hiburan Kaum Papa
Manusia butuh hiburan biar gak gila. Tapi hiburan di Jakarta itu identik dengan spending money. Nonton bioskop, ngopi di mall, staycation.
Buat sandwich generation gaji pas-pasan, hiburan kayak gitu adalah kemewahan yang cuma bisa dinikmati setahun sekali (pas THR cair, itu pun kalau gak abis buat mudik).
Terus, cara gue jaga kewarasan gimana? Gue cari Hiburan Gratis atau Murah Meriah.
Wisata Taman Kota: Jakarta sekarang banyak taman bagus (Tebet Eco Park, GBK, Langsat). Gue ajak anak istri main ke sana sore-sore. Modal bensin sama parkir doang. Anak seneng lari-lari, istri seneng bisa keluar kontrakan, gue seneng dompet aman. Liat orang kaya bawa anjing mahal, gue bawa anak gue yang mahal harganya (karena susunya mahal).
Movie Marathon di Rumah: Daripada ke bioskop bayar 50 ribu per orang, gue langganan platform streaming (patungan akun keluarga biar murah, 15 ribu sebulan). Masak popcorn sendiri dari jagung mentah, matiin lampu, jadi deh bioskop.
Main ke Rumah Temen: Daripada nongkrong di cafe, gue mending main ke rumah temen yang senasib. Ngopi kapal api, ngobrol ngalor-ngidul soal nasib, ketawa-ketawa. Gratis dan lebih bonding.
Kuncinya adalah Mindset. Bahagia itu gak harus mahal. Bahagia itu bisa sesederhana liat anak ketawa lepas walau cuma main gelembung sabun di teras kontrakan yang sempit.
Fase 6: Menerima Peran dengan Ikhlas (Sambil Tetap Berusaha Keluar)
Ini poin terakhir dan terpenting.
Selama bertahun-tahun, gue hidup dengan rasa marah. Marah kenapa gue harus nanggung beban ini. Marah kenapa orang tua gue gak nyiapin dana pensiun kayak orang tua temen gue. Marah kenapa gaji gue kecil padahal kerjanya keras.
Marah itu capek, Bro. Bikin darah tinggi, bikin cepet tua, dan gak ngerubah saldo rekening jadi nambah nol-nya.
Akhirnya, gue belajar buat Menerima.
Gue terima kalau ini adalah jalan hidup gue sekarang. Gue terima kalau gue adalah "jembatan" bagi keluarga gue. Jembatan emang diinjek-injek, tapi jembatanlah yang ngehubungin dua sisi yang terpisah.
Gue berbakti ke orang tua bukan karena terpaksa, tapi karena gue mau anak gue nanti liat bapaknya sebagai orang yang bertanggung jawab. Gue percaya karma baik itu ada.
TAPI, menerima bukan berarti pasrah diem aja kayak patung. Gue tetep cari celah. Gue ambil side job apa aja yang bisa dikerjain malem-malem pas anak istri udah tidur. Entah itu jasa ketik, jadi ojek online pulang kerja, atau jadi dropshipper. Uang receh dari sampingan ini yang gue pake buat "napas". Buat beli kuota, buat ganti oli, atau buat nabung tipis-tipis dana darurat 10 ribu sehari.
Kita Adalah Pemenang
Buat lo yang lagi baca ini di KRL yang desak-desakan, atau sambil ngitung sisa uang di dompet yang tinggal lembaran Pattimura (seribu rupiah)...
Lo gak sendirian.
Ada jutaan orang di luar sana yang juga lagi makan nasi garem demi orang tua bisa makan enak. Ada jutaan orang yang pake baju bolong demi anak bisa beli susu.
Lo mungkin ngerasa kalah karena gak punya mobil atau rumah mewah kayak temen-temen lo di Instagram. Tapi di mata orang tua lo, lo adalah pahlawan yang bikin masa tua mereka tenang. Di mata anak lo, lo adalah raksasa yang ngelindungin mereka dari laper.
Itu kemenangan sejati, Bro.
Teruslah bertahan. Teruslah berhemat (walau sakit). Dan teruslah berdoa semoga rejeki kita dilancarkan. Badai pasti berlalu, kalaupun nggak berlalu, ya kita yang makin jago menari di dalam badai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar