Nego Gaji Saat Interview: Jangan Malu, Jangan Ngelunjak
Momen paling deg-degan pas interview kerja itu bukan pas ditanya "Apa kelemahan terbesar kamu?", tapi pas pertanyaan "Berapa ekspektasi gaji kamu?". Di situ, jantung rasanya mau copot, Bro. Otak langsung nge-lag. Mau jawab jujur sesuai kebutuhan hidup UMR Jakarta yang serba mahal, takut dibilang ngelunjak dan gak keterima. Tapi kalau jawab UMR doang, nanti hidup makin sengsara.
Kita ini, para karyawan gaji lima jutaan, seringkali terjebak dilema itu. Di satu sisi, kita butuh gaji yang layak buat bertahan hidup, apalagi kalau udah berkeluarga dan punya anak. Di sisi lain, kita juga realistis sama kondisi pasar kerja dan takut kehilangan kesempatan cuma gara-gara salah ngomongin angka. Akhirnya, banyak dari kita yang cuma "terima aja" gaji yang ditawarin, padahal dalam hati ngerasa kurang.
Gue nulis ini karena gue pernah ngalamin sendiri gimana rasanya nyesel karena gak berani nego gaji. Atau malah pernah juga negonya salah strategi dan akhirnya gak dapet tawaran kerja. Ini bukan soal ilmu negosiasi ala pakar, tapi murni pengalaman jatuh bangun gue biar lo gak salah langkah.
Pengalaman Gue: Nyesel Seumur Hidup Gara-gara Gak Nego
Ada satu momen yang masih bikin gue nyesek sampai sekarang. Sekitar tiga tahun lalu, gue lagi nyari kerja baru karena gaji di kantor lama udah gak nutup biaya hidup. Setelah berbulan-bulan kirim lamaran dan interview sana-sini, akhirnya ada tawaran yang nyantol. Posisinya lumayan bagus, tapi gajinya sedikit di atas UMR Jakarta.
Waktu HRD nanya ekspektasi gaji, gue cuma bisa bilang, "Saya ikut standar perusahaan aja, Pak/Bu." Dalem hati gue mikir, "Yang penting keterima dulu, nanti kan bisa naik."
Realitanya? Kenaikan gaji itu gak segampang yang lo kira, Bro. Setelah gue kerja setahun, gaji gue cuma naik tipis banget, gak seberapa dibanding inflasi dan biaya hidup di Jakarta yang makin gila. Akhirnya gue sadar, kesempatan terbaik buat nego gaji itu ya cuma pas interview awal. Setelah lo masuk, posisi tawar lo itu kecil banget, kecuali lo punya skill yang super langka.
Gue nyesel banget waktu itu. Gara-gara gengsi atau takut dibilang matre, gue kehilangan kesempatan buat ngedapetin gaji yang lebih layak. Uang hasil nego yang harusnya bisa nutup cicilan, jadi cuma mimpi doang.
Kenapa Negosiasi Gaji Itu Penting (Tapi Sering Dilupakan)
Buat kita yang gajinya di rentang 4-7 juta, setiap kenaikan 500 ribu atau sejuta itu berasa banget dampaknya ke kualitas hidup.
1. Menutup Biaya Hidup Jakarta yang Edan Coba lo hitung lagi biaya kontrakan, transport, makan, listrik, susu anak. Itu semua gak murah, Bro. Kalau lo gak dapet gaji yang minimal bisa nutup itu semua dengan sedikit "napas", lo bakal hidup ngos-ngosan dari tanggal 1 sampai 30.
2. Modal Buat Masa Depan Kenaikan gaji meskipun cuma 500 ribu, kalau dikali setahun udah 6 juta. Duit segitu bisa jadi modal awal lo buat dana darurat, atau buat mulai nabung receh jadi emas (gue pernah cerita di sini: [Nabung Receh Tiap Hari Jadi Emas]). Jangan pernah ngeremehin uang 500 ribu, Bro.
3. Penghargaan Diri Lo udah capek-capek kuliah atau belajar skill, lo udah banting tulang kirim lamaran, ikut interview yang bikin stres. Masa iya lo gak berani menghargai diri sendiri dengan minta gaji yang pantes? Lo punya nilai, tunjukkan itu.
Persiapan Sebelum Nego: Jangan Asal Nembak Angka
Negosiasi gaji itu bukan kayak nembak cewek di pasar, Bro. Ada ilmunya dikit.
H3: Riset Gaji di Posisi Serupa Sebelum interview, cari tau dulu berapa kisaran gaji buat posisi yang lo lamar, di industri yang sama, dan dengan pengalaman kayak lo. Lo bisa cari di internet (LinkedIn, Jobstreet, Glassdoor) atau tanya temen-temen lo. Jangan cuma berpatokan sama UMR Jakarta, karena tiap posisi dan perusahaan bisa beda. Misal, lo di marketing, gajinya bisa beda sama lo di posisi admin, Bro.
H3: Hitung Kebutuhan Lo Sendiri Ini penting banget. Bikin list pengeluaran bulanan lo. Kontrakan, cicilan (kalau ada), transport, makan, susu anak, belanja bulanan. Tambahin juga buffer buat dana darurat dan uang kewarasan (sedikit hiburan buat diri sendiri biar gak stress). Total semua itu, itulah gaji minimum yang lo butuhkan. Jangan sampe gaji baru malah bikin lo kejebak di masalah utang lagi (pengalaman gue di sini: [Tutup Utang Pakai Utang: Jalan Keluar atau Lubang Baru]).
H3: Punya Angka Range Jangan cuma punya satu angka. Siapin rentang gaji yang lo inginkan. Misal: "Ekspektasi gaji saya di rentang Rp 6.000.000 sampai Rp 7.000.000, tergantung dari benefit dan tunjangan lainnya." Angka ini nunjukkin kalau lo fleksibel, tapi punya batasan.
Kapan Waktu Terbaik Nego dan Gimana Cara Ngomongnya?
Opini Gue: Waktu terbaik nego itu pas HRD atau user yang nanya duluan. Jangan lo yang nyeletuk duluan soal gaji. Itu baru namanya ngelunjak.
Cara Ngomongnya (Gue Saranin):
Jangan Langsung "Saya Minta..." Itu kesannya lo minta-minta.
Fokus ke Nilai Diri Lo: "Berdasarkan pengalaman saya [sebutin pengalaman dan skill yang relevan], dan melihat standar gaji di posisi serupa di industri ini, saya memiliki ekspektasi gaji di rentang [sebutin rentang angka lo], Pak/Bu."
Sertakan Benefit: "Angka tersebut sudah memperhitungkan biaya hidup di Jakarta dan kebutuhan keluarga saya. Tentu saja, saya juga terbuka untuk diskusi lebih lanjut mengenai total package yang ditawarkan, termasuk tunjangan dan benefit lainnya."
Tunjukkan Antusiasme: Jangan lupa tutup dengan antusiasme lo sama perusahaan. "Saya sangat tertarik dengan kesempatan ini dan yakin bisa memberikan kontribusi terbaik untuk perusahaan."
Pokoknya, lo tunjukkin bahwa lo udah riset, lo punya nilai, dan lo realistis. Lo gak sembarangan nembak angka, tapi lo juga gak mau dibayar murah.
Simulasi Nego Gaji yang Realistis buat UMR
Anggaplah posisi yang lo lamar itu staf admin di perusahaan IT. UMR Jakarta sekarang sekitar Rp 5 juta. Lo punya pengalaman 3 tahun.
Riset Lo: Temen lo di posisi serupa dapet 6.5 juta. Di Jobstreet, rata-rata 5.8 - 7 juta. Kebutuhan Lo: Setelah dihitung, minimal lo butuh 6 juta bersih buat hidup layak.
Ekspektasi Range Lo: Rp 6.000.000 - Rp 7.000.000.
Saat Interview, HRD nanya: "Berapa ekspektasi gaji Anda?" Jawaban Lo: "Berdasarkan pengalaman saya tiga tahun sebagai [nama posisi sebelumnya] di bidang [sebutin bidang], serta kemampuan saya dalam [sebutin skill spesifik, misal: mengelola data dan mengoperasikan software X], saya memiliki ekspektasi gaji di rentang Rp 6.500.000 hingga Rp 7.000.000 per bulan, Bu. Angka ini saya ajukan dengan mempertimbangkan tanggung jawab posisi ini dan standar biaya hidup di Jakarta."
Kalau dia nawar 5.8 juta, lo bisa bilang, "Saya sangat mengapresiasi tawaran Ibu. Apakah ada fleksibilitas untuk angka tersebut? Mengingat kemampuan dan pengalaman yang saya miliki, saya berharap bisa mendapatkan angka di kisaran Rp 6.200.000."
Intinya, lo harus punya angka dan argumen yang kuat, bukan cuma ngasal.
Gaji yang Layak, Hidup Lebih Tenang
Negosiasi gaji itu bukan tanda lo matre, Bro. Itu tanda lo menghargai diri sendiri dan lo punya perencanaan hidup yang matang. Jangan sampai lo terjebak di gaji yang gak cukup hanya karena lo takut buat bersuara.
Ingat, gaji yang layak itu bukan cuma soal angkanya, tapi soal ketenangan hidup lo, istri lo, dan anak lo. Dengan gaji yang cukup, lo gak perlu pusing mikirin utang, gak perlu stres mikirin makan besok, dan lo bisa lebih fokus membangun masa depan keluarga.
Jadi, pas nanti ada panggilan interview, buang jauh-jauh rasa minder lo. Siapin amunisi, riset yang mateng, dan ngomonglah dengan percaya diri. Semoga sukses dan dapet gaji yang lebih baik dari gue!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar