Ganti Asap Jadi Aset: Cara Gue Stop Merokok Buat Investasi

 

Ilustrasi kartun cerah yang menampilkan timbangan, sisi kiri berisi tumpukan rokok dan abu yang berat, sisi kanan berisi celengan ayam emas dan koin yang lebih berat, latar belakang kota Jakarta.
Siapa bilang investasi itu mainannya orang kaya atau anak-anak SCBD yang gajinya dua digit? Dulu gue juga mikir gitu. Mana mungkin karyawan gaji UMR Jakarta kayak gue, yang tiap bulan nerima lima koma sekian juta, bisa mikirin investasi. Bayar kontrakan, listrik, sama kebutuhan susu anak aja udah bikin napas engap-engapan di akhir bulan. Boro-boro mikir beli saham atau reksadana, bisa makan enak di tanggal 20 ke atas aja udah syukur.

Tapi persepsi gue berubah total pas gue iseng ngecek pengeluaran harian gue. Ternyata, ada satu pos pengeluaran yang kelihatan receh tapi kalau dikumpulin bisa buat bayar cicilan motor: Rokok.

Gue bukan pakar kesehatan yang bakal ceramahin lo soal paru-paru hitam atau risiko kanker. Gue di sini mau ngomongin soal dompet. Gue mau ngajak lo ngitung bareng, gimana caranya berhenti merokok dan uangnya dialihin ke investasi bisa nyelamatin keuangan rumah tangga kita yang pas-pasan ini. Ini cerita gue ganti asap jadi aset.

Tamparan Keras dari Sebungkus Rokok

Gue ngerokok sejak jaman sekolah. Pas udah kerja dan berkeluarga, kebiasaan itu makin jadi. Alasannya klasik: stres kerjaan, pusing mikirin biaya hidup Jakarta, atau sekadar butuh temen ngopi pas istirahat kantor. Sehari gue bisa abis sebungkus rokok filter yang harganya waktu itu sekitar 25 ribu sampai 30 ribu rupiah.

Kelihatannya kecil ya? Cuma 30 ribu perak. Lebih murah dari sekali makan di restoran fast food. Tapi mari kita pake matematika sederhana. 30 ribu x 30 hari = 900 ribu rupiah.

Pas gue sadar angka itu, gue lemes. Gaji gue 5 juta, tapi hampir 1 juta gue bakar jadi asep. Itu setara 20 persen dari penghasilan gue! Pantesan gue selalu ngerasa kurang duit. Pantesan gue sering bingung bayar utang (baca juga curhatan gue soal ini: [Gaji Masuk tapi Langsung Habis buat Bayar Utang]). Gue sadar, gue udah mendzolimi rezeki anak istri gue sendiri demi kepuasan sesaat di mulut.

Perjuangan Melawan Sugesti "Gak Ngerokok Gak Laki"

Mutusin buat berhenti itu gampang, jalaninnya yang setengah mati. Minggu-minggu pertama adalah neraka. Di kantor, temen-temen pada ngajak "sebat dulu" pas jam istirahat. Godaannya berat banget. Mulut asem, kepala pening, bawaannya pengen marah-marah. Istri gue sampe bingung kenapa gue jadi sensian di rumah.

Tapi tiap kali gue pengen nyerah dan beli ketengan di warung, gue buka aplikasi investasi di HP gue. Gue liat saldo yang mulai gue isi dari uang jatah rokok itu. Masih dikit emang, tapi ada rasa bangga yang aneh.

Gue tanamin di otak gue: "Gue bukan berhenti ngerokok karena takut mati, gue berhenti ngerokok karena gue mau kaya (atau seenggaknya nggak miskin-miskin amat)." Motivasi uang ternyata lebih ampuh buat gue daripada motivasi kesehatan.

Strategi "Alih Arus": Jangan Kasih Uangnya Nganggur

Banyak orang gagal berhenti ngerokok karena uang jatah rokoknya malah kepake buat jajan lain yang nggak penting, kayak gorengan atau kopi kekinian. Akhirnya ngerasa "sama aja borosnya" dan balik ngerokok lagi.

Nah, strategi yang gue pake adalah "Alih Arus". Begitu gue gajian, atau begitu gue punya uang harian jatah rokok, langsung gue pindahin. Jangan biarin ngendap di dompet atau rekening gaji.

H3: Pilih Instrumen yang Gak Ribet

Buat kita yang masih awam dan modalnya receh sisa uang rokok, jangan gaya-gayaan langsung main saham gorengan atau kripto yang bikin jantungan. Tujuan kita nyari aman.

Gue pilih Reksadana Pasar Uang. Kenapa?

  1. Bisa mulai dari 10 ribu atau 100 ribu perak. Pas banget sama nominal harga rokok.

  2. Risikonya rendah banget. Hampir nggak mungkin turun drastis.

  3. Cairinnya gampang (walau butuh waktu 1-2 hari kerja), jadi bisa dipake kalau ada darurat banget.

Tiap pagi, di jam yang biasanya gue mampir minimarket beli rokok, gue buka aplikasi bibit atau ajaib, terus gue "beli" reksadana seharga sebungkus rokok. Rasanya kayak belanja, tapi yang dibeli masa depan.

H3: Jadikan Kebiasaan Baru

Lama-lama, ini jadi kebiasaan. Kalau sehari gue lupa top-up investasi, rasanya ada yang kurang. Sama kayak dulu kalau lupa bawa korek. Bedanya, kebiasaan baru ini bikin saldo nambah, bukan bikin batuk.

Gue Gak Setuju Kalau Investasi Harus Nunggu Mapan

Sering banget gue denger omongan, "Ah, gaji UMR mah fokus makan dulu aja, investasi nanti kalau udah sisa." Gue SANGAT TIDAK SETUJU.

Teori itu salah besar buat kita. Kalau nunggu sisa, gaji UMR nggak akan pernah bersisa, Bro. Tuntutan hidup di Jakarta itu jahat. Selalu ada aja pengeluaran tak terduga. (Cek tulisan gue soal: [Resign Tanpa Dana Darurat: Sebulan Paling Panik dalam Hidup] buat liat betapa ngerinya nggak punya pegangan).

Investasi itu harus dipaksa di awal. Dan sumber dana paling masuk akal buat dipaksa ya dari memangkas gaya hidup yang nggak perlu, salah satunya rokok. Uang rokok itu adalah "uang dingin" yang selama ini kita anggap hangus. Jadi kalau uang itu dialihin ke investasi dan (amit-amit) rugi dikit, kita nggak bakal mati kelaparan, karena toh selama ini uangnya juga biasa dibakar.

Simulasi Mata Duitan: Seberapa Kaya Lo Tanpa Rokok?

Biar makin semangat, ayo kita hitung simulasi nyata. Anggap harga rokok lo sekarang naik jadi Rp 35.000 per bungkus (karena cukai naik terus, kan?).

  • Harian: Rp 35.000

  • Bulanan: Rp 1.050.000 (Gila, sejuta lebih!)

  • Setahun: Rp 12.600.000

Bayangin, duit 12 juta setahun!

Kalau lo masukin uang itu ke Reksadana Pasar Uang atau Obligasi dengan asumsi keuntungan (return) bersih 5% per tahun aja:

  • Tahun ke-1: Sekitar Rp 13.200.000 Uang segini bisa buat beli motor matic bekas cash, atau buat lunasin utang pinjol lo yang numpuk itu. Atau yang paling penting: DANA DARURAT. Kebanyakan kita nggak punya dana darurat. Nah, ini solusinya.

  • Tahun ke-5: (Dengan asumsi lo konsisten dan bunga berbunga) Bisa tembus Rp 70.000.000-an. Tujuh puluh juta, Bro. Itu bisa buat DP rumah subsidi di pinggiran, bisa buat biaya masuk SD swasta yang bagus buat anak lo, atau modal usaha istri di rumah.

Cuma dari berhenti ngerokok. Tanpa perlu cari kerja sampingan yang bikin gempor, tanpa perlu minta naik gaji ke bos yang pelit. Cuma mindahin pos pengeluaran doang.

Tapi Jangan Harap Langsung Jadi Sultan

Gue harus jujur disini. Berhenti merokok dan uangnya dialihin ke investasi nggak bakal bikin lo tiba-tiba jadi sultan yang naik Alphard dalam sebulan. Prosesnya lambat, kadang ngebosenin.

Lo bakal ngeliat saldo lo nambahnya dikit-dikit. Lo bakal tetep ngerasa pengen ngerokok pas lagi stres berat. Itu manusiawi. Gue pun kadang masih "kecolongan" sebatang dua batang pas lagi kumpul temen lama. Tapi gue langsung sadar dan besoknya gue ganti dengan top-up investasi dobel.

Intinya adalah kontrol. Selama ini kita dikontrol sama kecanduan nikotin. Sekarang, kita ambil alih kontrol itu buat masa depan keluarga. Rasanya jauh lebih "laki" bisa ngasih liat saldo tabungan ke istri daripada ngasih liat asbak penuh puntung rokok.

Jadi, lo tim mana sekarang? Tim bakar duit apa tim ternak duit?

No comments:

Post a Comment