Gaji Karyawan Minimarket di Jakarta: Cukup atau Ngos-ngosan?
Kalau lo nanya langsung ke gue, apakah gaji karyawan minimarket cukup buat hidup di Jakarta hari ini? Jawaban singkat gue: Cukup buat bernapas, tapi belum tentu cukup buat hidup tenang. Apalagi kalau lo udah punya tanggungan kayak gue, istri dan satu anak. Kata "cukup" di Jakarta itu definisinya luas banget, bisa berarti makan tiga kali sehari tapi lauknya kerupuk doang, atau bisa nabung tapi gak pernah nongkrong. Nah, posisi temen-temen di retail ini seringkali ada di skenario pertama.
Gue ngomong gini bukan karena gue pakar ekonomi. Gue cuma sesama pekerja di Jakarta yang gajinya juga muter di angka UMR. Gue sering mampir ke minimarket deket kontrakan sebelum berangkat kerja atau pas pulang malem. Gue liat muka-muka lelah kasir atau pramuniaga yang masih harus senyum ramah biarpun mungkin kaki mereka udah gemeteran berdiri seharian. Gue tau rasanya nunggu tanggal gajian dengan napas senin-kemis, jadi gue bisa sedikit bayangin apa yang mereka rasain setiap bulannya.
Realita Angka di Atas Kertas
Kita buka-bukaan aja soal angka. Banyak orang yang penasaran dan nyari tau berapa sih gaji alfamart atau gaji indomaret di Jakarta. Sebenarnya rahasia umum kalau patokan dasarnya ya gaji UMR Jakarta. Tahun ini, angkanya main di sekitar 5 jutaan.
Buat orang yang tinggal di daerah dengan biaya hidup rendah, 5 juta itu kedengarannya gede. Tapi buat kita yang tiap hari bertarung di kerasnya Jakarta, 5 juta itu kadang rasanya kayak uang monopoli. Cepat banget hilangnya.
Memang ada tambahan lain di luar gaji pokok. Ada uang lembur kalau lo kuat ambil shift tambahan atau bonus kinerja toko kalau target tercapai. Tapi kan itu nggak pasti. Dan yang namanya kerja di retail, ada risiko lain yang sering orang lupa: ganti rugi barang hilang (NKL). Kalau apes, gaji yang udah pas-pasan itu masih harus dipotong buat nutupin minus toko. Jadi, angka 5 juta bersih di tangan itu kadang cuma angan-angan.
Matematika Bertahan Hidup di Jakarta (Versi Jujur)
Sekarang coba kita bedah gaji segitu pakai kalkulator emak-emak yang realistis. Gue akan pakai sudut pandang orang yang udah berkeluarga, karena tekanannya beda banget sama yang masih lajang.
Lo punya 5 juta di tangan tanggal 1.
Urusan Atap dan Perut
Ini pengeluaran paling brutal di Jakarta. Kalau lo masih sendiri, mungkin bisa nyari kosan petak di gang senggol harga 800 ribu. Tapi kalau udah ada istri dan anak? Minimal nyari kontrakan tiga petak di pinggiran Jakarta. Itu pasaran udah 1,5 juta. Itu belum listrik sama air. Taruhlah total buat tempat tinggal habis 1,8 juta.
Sisa gaji: 3,2 juta.
Sekarang urusan makan. Ini trik paling susah. Lo nggak akan bisa makan enak di warteg tiap hari kalau gajinya segini. Kuncinya masak sendiri. Istri gue jago banget ngatur duit belanja, tapi sehemat-hematnya masak buat tiga orang (suami, istri, anak balita), sehari 50 ribu itu udah mepet banget. Sebulan berarti 1,5 juta. Itu menunya tahu, tempe, sayur asem, kadang telur. Ayam atau daging mungkin cuma mampir seminggu sekali pas weekend.
Sisa gaji: 1,7 juta.
Kebutuhan "Siluman" yang Wajib Ada
Nah, ini bagian yang sering bikin kepala mau pecah. Kalau lo punya anak balita kayak gue, ada dua benda keramat yang wajib dibeli: popok dan susu. Lo nggak bisa nawar sama kebutuhan ini.
Harga susu formula sekarang gila-gilaan. Anggaplah lo pakai merk standar, sebulan bisa habis 4 kaleng besar. Itu udah sekitar 600 ribu sampai 800 ribu. Belum popoknya. Taruhlah alokasi buat anak ini 1 juta bulat.
Sisa gaji: 700 ribu.
Dari sisa itu, lo masih harus bayar transport buat kerja. Biarpun naik motor butut, bensin tetap harus diisi. Belum kalau ban bocor atau harus ganti oli. Taruhlah 300 ribu buat transport.
Sisa gaji: 400 ribu.
Sisa 400 ribu ini harus cukup buat beli pulsa (buat lo dan istri), sabun mandi, odol, deterjen, dan iuran RT. Kira-kira cukup gak? Ya dipas-pasin.
Terus di mana alokasi buat nabung? Gak ada. Di mana alokasi buat hiburan nonton bioskop? Mimpi. Di mana dana darurat kalau tiba-tiba anak demam tinggi tengah malam? Ini yang paling ngeri. Seringkali jawabannya adalah pinjam dulu sama temen atau saudara, gali lubang tutup lubang.
Ini realita pahitnya. Hitungan di atas itu kondisi ideal di mana gak ada kejadian luar biasa. Kalau ada kondangan, ada motor rusak, atau ada sakit, bubar semua rencana keuangan bulan itu.
Cukup yang Dipaksakan
Jadi kalau balik ke pertanyaan awal, apakah gaji karyawan minimarket cukup? Jawabannya adalah "dicukup-cukupin".
Mereka bertahan hidup dengan menekan standar hidup serendah mungkin. Cukup karena nggak ada pilihan lain. Banyak dari temen-temen ini yang makan siangnya cuma mie instan di gudang toko demi hemat. Banyak yang berangkat kerja jalan kaki jauh dari kosan biar nggak keluar ongkos ojek.
Bagi yang masih lajang, mungkin gaji segitu masih bisa nyisain dikit buat ditabung atau dikirim ke kampung. Tapi tekanannya tetap ada. Jam kerja retail itu panjang dan melelahkan secara fisik dan mental. Lo dituntut selalu ramah sama pelanggan yang kadang kelakuannya ajaib, sambil mikirin stok barang dan target penjualan.
Gue sering ngobrol sama kasir langganan gue. Dia cerita kalau seringkali gaji itu cuma numpang lewat. Tanggal 5 udah mulai pusing lagi mikirin gimana caranya bertahan sampai akhir bulan. Ini kondisi psikologis yang berat. Hidup dalam kecemasan finansial terus-menerus itu bikin capek, Bro. Lo jadi nggak berani bermimpi punya rumah, nggak berani mikir liburan. Fokus lo cuma gimana hari ini bisa makan dan besok masih bisa kerja.
Makanya gue selalu salut sama mereka yang bisa bertahan bertahun-tahun dengan gaji UMR di kota ini, apalagi yang sambil ngehidupin keluarga. Itu butuh mental baja dan kemampuan manajemen krisis tingkat dewa setiap harinya.
Akhir Kata
Kerja di minimarket di Jakarta dengan gaji UMR itu adalah sebuah perjuangan bertahan hidup yang brutal. Ini bukan pekerjaan buat mereka yang manja. Di balik seragam rapi dan sapaan "Selamat datang di..." yang ramah itu, ada otak yang terus berputar kencang ngitung sisa duit di dompet.
Gue nggak mau ngasih motivasi palsu kayak motivator di seminar yang bilang "asal lo pinter ngatur duit, pasti bisa kaya". Realitanya, dengan gaji segitu di Jakarta, bisa gak ngutang aja udah prestasi luar biasa. Buat lo yang sekarang lagi jalanin peran ini, gue cuma bisa bilang: lo hebat udah bisa bertahan sejauh ini. Hormat gue buat kalian para pejuang rupiah di garda depan retail.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar