Financial Freedom Gaji UMR: Mimpi atau Bisa Jadi Nyata?

 

Ilustrasi kartun perjuangan karyawan gaji UMR mencapai financial freedom dengan menerapkan hidup hemat, membawa bekal makan siang, mengumpulkan dana darurat, dan mengurung monster utang konsumtif demi keluarga bahagia.
Jujur aja, tiap kali gue denger kata financial freedom sliweran di media sosial, ada perasaan campur aduk di dada gue. Antara pengen banget ngerasain, sama pengen ngelempar HP.

Gimana enggak? Yang ngomongin biasanya anak muda umur 20-an yang udah punya mobil sport, atau "mentor bisnis" yang hobinya pamer saldo ATM miliaran. Lah, kita? Karyawan yang tiap pagi desek-desekan di KRL Manggarai, yang gajinya cuma mampir bentar tanggal 25 terus langsung pamit buat bayar kontrakan. Rasanya konsep kebebasan finansial itu kayak dongeng sebelum tidur: indah didenger, tapi pas bangun ya balik lagi ke realita makan warteg.

Sebagai bapak satu anak yang tinggal di pinggiran Jakarta dengan gaji UMR (lo tau lah kisarannya, lima jutaan dikit), gue sempet skeptis. Apa iya orang kayak gue bisa bebas finansial? Atau seenggaknya, nggak deg-degan tiap kali token listrik bunyi?

Gue nulis ini bukan karena gue udah kaya raya. Saldo gue belum miliaran, boro-boro. Gue nulis ini sebagai sesama pejuang receh yang lagi berusaha "waras" ngatur duit. Gue mau ngajak lo ngobrol soal financial freedom versi kita, versi karyawan biasa yang modalnya cuma niat dan strategi hidup hemat yang agak militan.

Menata Ulang Definisi Bebas

Masalah utama kita seringkali ada di definisi. Kalau lo mikir financial freedom itu artinya punya kapal pesiar, rumah di Pondok Indah, dan bisa liburan ke Eropa tiap bulan, mending stop baca di sini. Dengan gaji 5 juta, itu butuh keajaiban atau menang lotre.

Tapi, setelah gue renungin sambil bengong di jam istirahat kantor, gue nemu definisi lain yang lebih masuk akal.

Buat gue sekarang, financial freedom itu sederhana: Bisa tidur nyenyak tanpa kepikiran besok makan apa. Bisa beli susu anak tanpa harus ngecek saldo dulu dengan tangan gemetar. Dan yang paling penting, nggak punya utang jahat yang bunganya nyekek leher.

Itu dulu deh targetnya. Nggak muluk-muluk. Soalnya, ngejar gaya hidup orang kaya dengan gaji pas-pasan itu sama aja bunuh diri pelan-pelan. Gue pernah ada di fase itu, maksa kredit motor sport biar kelihatan keren pas nongkrong, padahal di rumah makan mie instan dibagi dua sama istri. Konyol banget kalau diinget-inget.

Realita Gaji UMR Jakarta dan Pengeluaran Bulanan

Mari kita bedah pengeluaran bulanan kita secara brutal. Nggak usah ditutup-tutupin, kita sama-sama tau rasanya.

Anggaplah gaji bersih masuk rekening Rp 5.000.000.

  1. Tempat Tinggal: Di Jakarta dan sekitarnya, nyari kontrakan layak buat keluarga kecil itu minimal Rp 1.500.000. Itu pun biasanya agak masuk gang atau jauh dari stasiun.

  2. Makan: Istri masak itu wajib hukumnya buat yang mau hemat. Tapi tetep aja, belanja sayur, beras, gas, minyak goreng. Anggaplah sehari 50 ribu buat makan bertiga (suami, istri, anak balita). Sebulan udah Rp 1.500.000.

  3. Transportasi: KRL murah, tapi ojek online dari stasiun ke kantor atau rumah itu yang boros. Plus bensin motor pas weekend. Taruhlah Rp 500.000.

  4. Kebutuhan Anak: Popok dan susu. Ini pos yang nggak bisa ditawar. Rp 800.000 melayang.

  5. Listrik, Air, Kuota: Rp 400.000. Ini udah irit banget, AC nyala cuma pas tidur malem.

  6. Dana Tak Terduga/Kondangan: Rp 300.000.

Total hitungan kasar: Rp 5.000.000. Sisa: NOL.

Liat kan? Di atas kertas, financial freedom itu kayak mustahil. Sekali aja anak sakit atau motor turun mesin, minuslah neraca keuangan kita. Di situlah biasanya "setan" bernama pinjaman online atau gesek kartu kredit mulai melambaikan tangan.

Terus gimana caranya bisa bebas kalau pas-pasan gini?

Strategi "Tega" pada Diri Sendiri

Satu-satunya jalan buat kita yang nggak punya warisan tujuh turunan adalah jadi "tega". Tega sama keinginan diri sendiri.

Gue mulai nerapin hidup hemat yang sebenernya. Bukan pelit ya, beda. Pelit itu lo nggak mau sedekah atau nggak mau beli obat pas sakit. Hemat itu lo sadar kalau kopi 50 ribu itu nggak logis buat gaji 5 juta.

Gue ganti semua kebiasaan kecil. Kopi kekinian gue ganti kopi sachet atau bikin sendiri di pantry kantor. Rokok? Gue berhenti total (selain hemat, istri juga seneng). Makan siang? Gue buang gengsi jauh-jauh, gue bawa bekal dari rumah.

Awalnya emang berat. Diledek temen kantor? Pasti. "Wih, tumben bawa rantang," kata mereka. Gue cuma nyengir. Dalem hati gue bilang, "Liat aja nanti siapa yang akhir bulan minjem duit."

Dari penghematan-penghematan kecil itu, gue bisa nyisihin sekitar 300-500 ribu sebulan. Kecil? Banget. Tapi konsistensi itu kuncinya.

Langkah Pertama: Dana Darurat adalah Koentji

Sebelum lo mikir investasi saham, kripto, atau apalah yang lagi ngetren, tolong dengerin saran gue: Lupakan dulu itu semua.

Fokus pertama lo haruslah Dana Darurat.

Kenapa? Karena gaji UMR itu rapuh. Kita nggak punya jaring pengaman. Dana darurat ini yang bakal nyelamatin harga diri lo saat musibah dateng, biar lo nggak perlu ngutang.

Gue kumpulin recehan sisa penghematan tadi. Target gue waktu itu cuma 3 juta dulu (setara biaya hidup sebulan kalau super irit). Butuh waktu hampir setahun buat ngumpulin 3 juta itu karena sering kepake. Tapi pas udah terkumpul, rasanya... tenang.

Ada rasa aman yang nggak bisa dibeli. Pas anak demam tinggi, gue nggak panik nyari pinjeman. Gue tinggal ambil dari pos itu. Itulah rasa "freedom" pertama yang gue cicipi. Kalau lo masih bingung mulainya, coba baca tulisan gue soal cara mengumpulkan dana darurat biar ada gambaran teknisnya.

Utang adalah Musuh Bebas Finansial

Gue pernah ada di titik terendah di mana cicilan gue makan 40% dari gaji. Itu neraka dunia, Bro. Tidur nggak nyenyak, kerja nggak fokus, bawaannya emosi mulu di rumah.

Kalau lo sekarang lagi punya utang konsumtif (paylater, kartu kredit, pinjol), stop mikirin financial freedom. Fokus lo sekarang cuma satu: LUNASI.

Jual barang yang nggak perlu. Cari sampingan apa aja, jadi ojol pas pulang kerja, jualan online, apa aja. Selesaikan utang itu secepat kilat. Bunga utang itu jahat, dia bakal makan masa depan lo kalau didiemin.

Gue butuh waktu dua tahun buat bersih-bersih utang. Berdarah-darah rasanya. Tapi begitu lunas, rasanya kayak baru keluar dari penjara. Gaji 5 juta yang tadinya kerasa sesak, tiba-tiba jadi lega karena utuh milik gue (ya dikurangin bayar kontrakan sih, tapi seenggaknya bukan buat bayar bunga). Buat strateginya, lo bisa cek pengalaman gue di artikel cara melunasi hutang gaji kecil.

Investasi Versi Kaum Mendang-Mending

Setelah utang lunas dan ada dana darurat dikit, baru gue berani ngelirik investasi. Tapi inget, gue sadar diri.

Gue nggak ikut-ikutan beli saham gorengan yang risikonya bikin jantungan. Gue pilih yang ngebosenin tapi pasti. Reksa dana pasar uang atau emas tabungan digital. Kenapa? Karena gue nggak siap mental kalau duit 500 ribu gue tiba-tiba jadi 200 ribu dalam semalam.

Investasi buat kita yang gaji UMR itu bukan buat jadi kaya raya instan. Itu buat ngelawan inflasi. Biar duit capek kita nggak dimakan rayap waktu.

Refleksi: Perjalanan Masih Panjang

Sekarang, apakah gue udah financial freedom? Belum sepenuhnya. Gue masih harus kerja. Gue masih harus mikir kalau mau beli barang mahal.

Tapi, gue udah nggak dikejar debt collector. Gue udah punya tabungan buat jaga-jaga kalau (amit-amit) PHK dateng. Dan gue bisa tidur nyenyak.

Buat temen-temen sesama karyawan gaji 4-5 jutaan, jangan minder liat pencapaian orang lain di medsos. Garis start kita beda. Sepatu lari kita beda.

Financial freedom buat kita mungkin bukan pensiun dini di umur 30 sambil leha-leha. Buat kita, kebebasan itu adalah kemampuan buat bilang "Cukup". Cukup makan, cukup tempat tinggal, dan cukup hati.

Jalan kita masih panjang dan pasti bakal banyak lubangnya. Kadang ban bocor, kadang bensin abis. Tapi selama kita nggak berhenti dan tetep pegang prinsip hidup hemat, kita pasti nyampe ke tujuan masing-masing. Pelan-pelan aja, asal selamat. Semangat terus buat lo yang lagi berjuang ngatur pos pengeluaran bulanan malam ini. Lo hebat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar