Awalnya Cuma Buat Darurat, Kok Utang Kartu Kredit Jadi Numpuk?

 

Ilustrasi kartun cerah yang menggambarkan seorang karyawan pria berwajah panik di Jakarta, dikelilingi oleh tumpukan tagihan kartu kredit yang menjulang tinggi, sementara di tangannya memegang satu kartu kredit yang terlihat seperti monster kecil. Latar belakangnya ada ikon Monas dan kemacetan.
Lo pasti pernah ngalamin momen di mana gaji UMR Jakarta yang lima koma sekian itu rasanya cuma numpang lewat doang di rekening. Buat kita yang udah berkeluarga, punya satu anak, dan tinggal di kerasnya Ibukota, mengatur uang itu kayak main sulap. Kebutuhan pokok, kontrakan, listrik, sama susu anak seringkali balapan sama tanggal tua. Nah, di saat-saat kepepet itulah, si plastik kecil bernama kartu kredit sering hadir bak pahlawan kesiangan. Awalnya sih niat kita mulia, cuma mau dipake kalau ada kondisi darurat beneran. Tapi realitanya? Kartu sakti itu malah jadi awal mula bencana keuangan yang bikin tidur gak nyenyak.

Gue nulis ini bukan sebagai orang yang udah sukses bebas finansial, tapi sebagai sesama karyawan biasa yang pernah (dan kadang masih) pusing tujuh keliling ngadepin tagihan. Gue mau berbagi pengalaman pahit gue kejebak dalam lingkaran setan utang kartu kredit yang awalnya gue pikir bisa gue kendaliin. Nyatanya, gue yang dikendaliin sama dia.

Pengalaman Gue Kenalan Sama Kartu Setan

Dulu, waktu pertama kali ditawarin kartu kredit sama sales di mall, gue sempet nolak. Gue sadar gaji gue pas-pasan. Tapi si sales pinter banget ngomongnya, "Buat jaga-jaga Pak, kalau anak sakit tengah malem atau ada kebutuhan mendesak pas belum gajian."

Kalimat "buat jaga-jaga" itu kena banget di hati gue sebagai kepala keluarga muda yang sering insecure sama isi dompet. Akhirnya gue apply, dan gak lama kemudian kartu itu nyampe di tangan dengan limit dua kali gaji gue. Rasanya? Merasa kaya mendadak.

Bulan pertama, kartu itu anteng di dompet. Bulan kedua, anak gue demam tinggi dan harus dibawa ke IGD. Gaji udah nipis. Akhirnya, gesekan pertama terjadi. "Ini darurat," batin gue. Pas gajian, gue langsung lunasi full. Gue merasa bangga bisa bijak.

Tapi masalahnya, definisi "darurat" di otak gue lama-lama mulai geser. Awalnya darurat itu urusan rumah sakit. Lama-lama, "sepatu kerja jebol pas diskon gede" jadi darurat. Terus, "traktir temen kantor sekali-kali biar gak dikata pelit" juga jadi darurat. Tanpa sadar, gue mulai terbiasa hidup dengan uang yang sebenernya bukan punya gue.

Jebakan Batman Bernama "Minimum Payment"

Ini adalah kesalahan paling fatal yang pernah gue lakuin, dan gue yakin banyak dari lo juga pernah tergoda ngelakuinnya. Pas tagihan dateng dan angkanya lumayan gede, katakanlah 3 juta rupiah, mata gue langsung tertuju ke angka kecil di bawahnya: "Pembayaran Minimum: Rp 150.000".

Wah, enteng banget! Otak gue langsung mikir, daripada bayar 3 juta dan sisa gaji abis, mending bayar 150 ribu aja dulu. Sisanya buat belanja kebutuhan rumah tangga. Kelihatannya solusi cerdas, kan? Padahal itu jebakan.

Gue gak sadar kalau dengan cuma bayar minimum, utang pokok gue itu nyaris gak berkurang. Yang gue bayar itu mayoritas cuma bunganya doang. Dan bunga kartu kredit itu jahat banget, Bro. Dia terus berbunga dari sisa utang yang belum dibayar.

Bulan depannya, tagihan dateng lagi. Utang lama masih utuh, ditambah bunga, ditambah pemakaian baru. Angkanya makin bengkak. Gue bayar minimum lagi. Gitu terus sampai akhirnya gue sadar, limit gue udah hampir jebol tapi barang yang gue beli udah pada rusak atau lupa bentuknya kayak apa. Gue baru sadar kalau gue lagi gali lubang yang makin lama makin dalem.

Kalau lo udah mulai sering bayar minimum payment, hati-hati deh. Itu tanda-tanda lo mulai kehilangan kendali atas keuangan lo. Daripada kejebak makin dalam, coba cek juga tulisan gue tentang tanda-tanda keuangan lo lagi gak sehat di sini: [Gaji Masuk tapi Langsung Habis buat Bayar Utang].

Gesek Tunai: Puncak Kepanikan Finansial

Ada masa di mana kondisi keuangan keluarga gue lagi seret-seretnya. Ada kebutuhan mendesak yang gak bisa dibayar pake gesek kartu, harus pake uang tunai. Sementara saldo di ATM udah teriak minta tolong.

Di tengah kepanikan itu, gue ngeliat iklan di pinggir jalan atau tempelan di tiang listrik: "Terima Gestun, Bunga Ringan". Gestun atau gesek tunai ini sebenernya praktik ilegal, di mana kita pura-pura belanja di toko merchant, tapi yang kita terima bukan barang, melainkan uang tunai yang dipotong biaya administrasi lumayan gede.

Karena kepepet, gue lakuin itu. Gue gestun 2 juta. Gue seneng dapet duit cash cepet. Tapi bulan depannya, tagihan kartu kredit gue meledak. Biaya gestun itu mahal, belum lagi bunga kartu kreditnya sendiri yang langsung jalan sejak hari pertama kita tarik tunai. Ini beda sama kalau kita belanja barang yang biasanya ada masa tenggang bebas bunga.

Gestun ini bener-bener racun buat kita yang gajinya pas-pasan. Ini solusi sesaat yang bikin masalah jangka panjang jadi berlipat ganda.

Gue Gak Setuju Kalau Kartu Kredit Itu Aman Buat Semua Orang

Banyak pakar keuangan atau influencer di media sosial yang bilang, "Kartu kredit itu alat bayar yang menguntungkan kalau kita disiplin dan bayar lunas tiap bulan. Bisa dapet poin, diskon, bla bla bla."

Jujur, gue sebagai karyawan gaji UMR yang punya tanggungan keluarga, agak kurang setuju sama pernyataan itu kalau ditelan mentah-mentah. Teori itu bener buat mereka yang gajinya sisa banyak tiap bulan. Tapi buat kita?

Disiplin itu susah banget ditegakkan ketika kebutuhan dasar aja kadang masih kurang. Godaan untuk "gesek dulu, bayar nanti" itu kuat banget saat kita ngeliat anak minta mainan atau istri butuh makeup baru tapi uangnya gak ada.

Buat kalangan kayak kita, kartu kredit itu ibarat nyimpen bensin di sebelah kompor. Sedikit aja lengah, bisa kebakaran. Tekanan gaya hidup di Jakarta juga bikin kita seringkali make kartu kredit bukan karena butuh, tapi karena gengsi atau FOMO (takut ketinggalan tren).

Situasi ini mirip sama tekanan yang dialami generasi sekarang. Lo bisa baca perbandingannya di artikel gue yang lain: [Gaji Gen Z vs Gaji Milenial: Siapa Lebih Tertekan?]. Intinya sama, tekanan hidup bikin kita cari jalan pintas yang salah.

Simulasi Sederhana: Kenapa Utang Lo Gak Lunas-Lunas

Biar lo ada gambaran betapa ngerinya cuma bayar minimum payment, gue kasih hitungan kasar ala warteg.

Misal lo punya total tagihan kartu kredit Rp 5.000.000. Bank biasanya minta minimum payment sekitar 5% dari total tagihan, atau minimal Rp 50.000 (tergantung bank). Anggaplah lo harus bayar minimum Rp 250.000.

Lo pikir dengan bayar 250 ribu, utang lo tinggal 4.750.000? Salah besar.

Dari 250 ribu itu, sebagian besar dipake bank buat nutupin bunga bulan itu (yang bisa sekitar 1.75% - 2% per bulan). Belum lagi kalau ada biaya materai atau denda telat. Mungkin yang bener-bener ngurangin utang pokok lo cuma sekitar 100 ribu perak atau bahkan kurang.

Jadi bulan depan, utang pokok lo masih sekitar Rp 4.900.000, dan itu bakal kena bunga lagi. Kalau lo terus-terusan cuma bayar minimum dan gak nambah utang baru, lo butuh waktu bertahun-tahun buat lunasin utang 5 juta itu. Dan total bunga yang lo bayar bisa jadi lebih gede dari utang aslinya. Ngeri kan?

Jujur Sama Diri Sendiri Itu Kuncinya

Gue gak akan nutup artikel ini dengan kata-kata motivasi palsu kayak "Ayo semangat, lo pasti bisa lunasin semuanya besok!". Karena nyatanya, keluar dari jeratan kartu kredit itu susah banget. Gue sendiri butuh waktu lama dan harus ngorbanin banyak hal, termasuk jual beberapa barang di rumah dan hidup super irit, buat nutup kartu kredit itu satu per satu.

Langkah pertama yang paling penting adalah jujur sama diri sendiri. Akui kalau lo udah salah langkah. Akui kalau lo gak sanggup punya kartu kredit saat ini. Kalau perlu, gunting kartunya sekarang juga biar gak ada godaan buat gesek lagi.

Berhenti menganggap kartu kredit sebagai dana darurat atau uang tambahan. Itu adalah utang dengan bunga paling mencekik. Lebih baik hidup pas-pasan dengan uang tunai yang ada, daripada terlihat mapan tapi tiap malam keringat dingin mikirin tagihan yang dateng. Sakit emang, tapi lebih baik sakit sekarang daripada nanti tua bangka masih dikejar debt collector.

No comments:

Post a Comment