Gaji Dua Digit Tapi Saldo Menjerit? Ini Biang Keroknya!
"Gaji Dua Digit" alias puluhan juta. Di mata orang lain, lo itu sukses, mapan, dan tajir. Tapi realitanya? Lo lagi pusing mikirin cara survive sampai gajian bulan depan.
Lo nggak sendirian, bro. Ini adalah wabah yang menyerang banyak profesional muda di kota besar. Istilah kerennya HENRY (High Earner, Not Rich Yet). Penghasilan tinggi, tapi belum kaya (miskin aset).
Kenapa fenomena aneh ini bisa terjadi? Kenapa gaji 20 juta rasanya sama sesaknya dengan gaji 5 juta? Artikel ini akan membongkar "tikus-tikus" yang menggerogoti kekayaan lo tanpa disadari. Siap-siap merasa tertampar, karena ini demi kebaikan dompet lo.
1. Kena Penyakit "Parkinson’s Law"
Bukan penyakit medis, tapi hukum ekonomi. Hukum Parkinson berbunyi: "Pengeluaran akan selalu membengkak untuk memenuhi jumlah pemasukan yang tersedia."
Ingat waktu gaji lo masih UMR? Lo bisa hidup, makan, dan bayar kos. Begitu gaji naik 3x lipat, harusnya lo bisa nabung 2x lipatnya, kan? Tapi kenyataannya, lo malah pindah ke apartemen yang lebih mahal, ganti mobil yang cicilannya lebih tinggi, dan upgrade gadget ke seri Pro Max.
Otak lo secara otomatis menaikkan standar kenyamanan. Lo merasa "uang sisa" itu harus dihabiskan, bukan disimpan. Inilah yang bikin lo jalan di tempat. Gaji naik, gaya hidup naik, tabungan tetap nol.
2. "Self-Reward" yang Jadi Candu
"Kerja bagai kuda, masa nggak boleh beli tas branded?" "Gue stres banget minggu ini, butuh staycation nih."
Hati-hati, bro. Konsep self-reward sekarang sudah melenceng jauh jadi pembenaran impulsif. Lo menggunakan emosi sesaat (stres, lelah, senang) sebagai alasan untuk membakar uang.
Bahayanya, standar reward lo makin lama makin mahal. Dulu cukup beli es krim, sekarang harus fine dining. Kalau reward yang lo kasih ke diri sendiri malah bikin lo stres bayar tagihan di akhir bulan, itu bukan hadiah. Itu hukuman.
3. Terjebak Kompetisi "Fake Rich" di Medsos
Kita hidup di era di mana "Kelihatannya" lebih penting daripada "Kenyataannya". Lo melihat teman posting liburan ke Jepang, lo panas. Lo lihat teman posting sepeda baru, lo gatal pengen beli.
Tanpa sadar, lo membelanjakan uang yang sebenarnya nggak lo punya (pakai kartu kredit/paylater), untuk membeli barang yang nggak lo butuhkan, demi pamer ke orang-orang yang bahkan nggak peduli sama lo. Ini adalah resep paling cepat menuju kebangkrutan. Orang kaya beneran fokus nambah aset, orang yang "sok kaya" fokus nambah gaya.
4. Buta Finansial: Aset vs Liabilitas
Banyak orang bergaji besar yang buta soal ini. Mereka beli mobil mewah dan bilang itu investasi. Salah besar. Mobil itu Liabilitas (beban). Nilainya turun terus, pajaknya mahal, bensinnya boros. Uang keluar terus.
Aset adalah sesuatu yang masukin uang ke kantong lo. Contoh: Saham, reksa dana, properti yang disewakan, atau bisnis sampingan. Kalau gaji lo 30 juta tapi 90%-nya dipakai buat bayar cicilan liabilitas (rumah mewah, mobil mewah), net worth lo sebenarnya minus. Lo cuma jadi sapi perah buat bank.
5. Gak Punya "Pos Jaga-Jaga"
Orang bergaji besar sering jumawa. Merasa uang pasti ngalir terus, jadi meremehkan Dana Darurat. Begitu ada kejadian tak terduga—sakit berat, mobil turun mesin, atau kena layoff—fondasi keuangan mereka langsung runtuh seketika karena nggak punya uang tunai standby. Akhirnya? Lari ke pinjaman online atau kartu kredit lagi. Lingkaran setan dimulai.
Solusi: "Downgrade" Sekarang atau Miskin Selamanya
Kalau lo merasa tersindir, good. Itu langkah awal perubahan. Solusinya cuma satu dan emang pait: Downgrade Gaya Hidup Lo.
Turunkan gengsi. Nggak perlu ngopi di kafe mahal tiap hari.
Audit langganan streaming dan membership gym yang nggak kepakai.
Terapkan rumus: Investasi Dulu, Baru Belanja. Begitu gaji masuk, potong 30% buat investasi/tabungan. Paksa diri lo hidup dengan sisanya.
Ingat, kekayaan itu bukan diukur dari berapa besar gaji lo, tapi berapa lama lo bisa bertahan hidup tanpa bekerja. Jangan sampai kerja seumur hidup cuma buat pura pura kaya padahal merana.

No comments:
Post a Comment