Jangan Nabung Dulu Kalau Masih Punya Utang

 

Ilustrasi seseorang menahan diri untuk menabung ke celengan dan memilih membayar tumpukan tagihan utang terlebih dahulu sebagai strategi prioritas keuangan yang cerdas.

Nasihat keuangan paling umum yang sering kita dengar sejak kecil adalah rajin pangkal pandai dan hemat pangkal kaya. Kita didoktrin bahwa menyisihkan uang untuk ditabung adalah kebiasaan mulia yang harus dilakukan siapa saja. Namun di dunia nyata orang dewasa yang penuh dengan jebakan finansial, nasihat ini bisa jadi salah kaprah jika diterapkan tanpa melihat konteks.

Ada satu kondisi krusial di mana menabung justru menjadi keputusan finansial yang buruk. Kondisi itu adalah saat lo masih memiliki tumpukan utang dengan bunga tinggi yang menggerogoti penghasilan bulanan lo. Memaksa diri untuk menabung di saat seperti ini ibarat mencoba mengisi bak mandi yang sumbatnya bocor. Air yang masuk tidak sebanding dengan air yang terbuang sia-sia.

Artikel ini akan membuka mata lo tentang logika matematika di balik prioritas keuangan, kenapa melunasi utang harus didahulukan daripada menumpuk saldo tabungan, dan kapan saat yang tepat untuk mulai kembali menabung.

Matematika Bunga yang Membunuh Perlahan

Alasan utama kenapa lo harus stop menabung saat punya utang adalah hitungan matematika sederhana soal suku bunga. Dalam dunia keuangan, ini adalah pertempuran antara bunga yang lo dapatkan dari bank melawan bunga yang harus lo bayar ke kreditur.

Mari kita bedah angkanya. Rata-rata tabungan di bank konvensional memberikan bunga yang sangat kecil, seringkali di bawah 1 persen per tahun. Bahkan jika lo taruh di deposito, imbal hasilnya mungkin hanya sekitar 3 sampai 4 persen per tahun. Di sisi lain, coba lihat bunga utang konsumtif lo. Kartu kredit rata-rata membebankan bunga sekitar 2 persen per bulan atau setara 24 persen per tahun. Pinjaman online bahkan bisa jauh lebih tinggi dari itu.

Jika lo punya uang 10 juta rupiah dan memilih untuk menabungnya di deposito dengan bunga 4 persen, lo dapat untung 400 ribu setahun. Tapi jika lo punya utang kartu kredit 10 juta dengan bunga 24 persen, lo rugi 2,4 juta setahun. Selisih minus 2 juta itulah kekayaan lo yang hilang percuma. Jadi, melunasi utang berbunga 24 persen itu sama saja dengan lo mendapatkan keuntungan investasi pasti sebesar 24 persen. Itu angka yang fantastis dan bebas risiko.

Fokus Hancurkan Utang Jahat

Tidak semua utang diciptakan setara. Strategi stop menabung ini berlaku spesifik untuk jenis utang yang sifatnya konsumtif dan berbunga tinggi, atau sering disebut sebagai utang jahat.

Utang jahat adalah musuh nomor satu kekayaan lo. Ini termasuk tagihan kartu kredit yang tidak dibayar penuh, pinjaman online untuk gaya hidup, paylater yang menumpuk, atau Kredit Tanpa Agunan (KTA) untuk liburan. Bunga dari pinjaman jenis ini dirancang dengan sistem bunga berbunga yang bisa menggulung nilai pokok utang lo dengan sangat cepat jika tidak segera dimatikan.

Selama utang jenis ini masih ada di daftar tagihan lo, lupakan dulu keinginan untuk menabung dana liburan, dana ganti gadget, atau pos tabungan sekunder lainnya. Alihkan semua amunisi dana bebas lo untuk menyerang pokok utang ini secara agresif sampai angkanya nol.

Pengecualian Penting Untuk Dana Darurat

Satu-satunya tabungan yang boleh dan wajib lo miliki saat sedang berutang adalah dana darurat. Tapi ingat, jumlahnya tidak perlu terlalu besar dulu. Lo tidak perlu menunggu punya dana darurat 6 bulan pengeluaran baru mulai bayar utang. Itu terlalu lama dan bunganya keburu membengkak.

Cukup kumpulkan dana tunai di rekening terpisah sebesar satu kali pengeluaran bulanan lo. Atau nominal psikologis yang membuat lo merasa aman, misalnya 3 sampai 5 juta rupiah. Dana ini berfungsi sebagai sekoci penyelamat.

Kenapa ini penting? Bayangkan lo menghabiskan semua uang gaji sampai nol rupiah untuk bayar utang. Tiba-tiba minggu depan motor lo rusak dan butuh biaya servis 1 juta. Karena lo tidak punya uang tunai sama sekali, lo terpaksa berutang lagi atau gesek kartu kredit lagi. Siklus gali lubang tutup lubang ini tidak akan pernah selesai tanpa adanya dana darurat kecil tersebut.

Kapan Boleh Menabung Sambil Mencicil

Aturan mainnya berbeda jika utang yang lo miliki adalah utang baik atau utang produktif. Contoh paling umum adalah KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau cicilan kendaraan yang dipakai untuk bekerja. Utang jenis ini biasanya memiliki bunga yang jauh lebih rendah dan tenor yang sangat panjang.

Untuk kasus KPR dengan bunga misal 8 sampai 10 persen per tahun, lo tidak perlu menunda menabung atau investasi sampai rumah lunas 15 tahun lagi. Itu tidak masuk akal. Lo bisa menjalankan strategi campuran. Bayar cicilan rumah sesuai kewajiban bulanan, lalu sisa penghasilan lo dialokasikan untuk investasi yang instrumennya bisa memberikan imbal hasil di atas bunga KPR tersebut, seperti saham atau reksa dana saham jangka panjang.

Jadi kuncinya ada di perbandingan suku bunga. Kalau bunga utangnya rendah dan asetnya produktif, silakan jalan beriringan. Tapi kalau bunga utangnya tinggi dan konsumtif, stop nabung dan lunasi segera.

Ketenangan Batin Lebih Mahal dari Saldo Rekening

Selain faktor matematika, ada faktor psikologis yang tidak bisa diabaikan. Hidup dengan beban utang itu melelahkan secara mental. Ada rasa cemas setiap kali melihat tanggal jatuh tempo, ada rasa bersalah saat membelanjakan uang, dan ada ketakutan akan teror penagihan jika telat bayar.

Bagi banyak orang, melunasi utang memberikan rasa kebebasan yang luar biasa. Perasaan lega karena gaji lo utuh menjadi milik lo sepenuhnya tanpa harus disetor ke pihak lain adalah kemewahan yang tidak ternilai.

Kondisi mental yang sehat dan bebas tekanan ini justru seringkali memicu produktivitas kerja yang lebih baik. Lo jadi lebih fokus berkarya, lebih kreatif mencari peluang, dan lebih berani mengambil risiko terukur untuk masa depan karena tidak ada beban masa lalu yang menahan langkah lo.

Prioritas Keuangan yang Logis

Mengatur keuangan itu butuh logika, bukan sekadar perasaan. Menabung memang kebiasaan baik, tapi melakukannya saat lo sedang terjerat utang bunga tinggi adalah tindakan yang kurang bijak secara finansial.

Jangan terjebak gengsi atau rasa aman semu dengan melihat saldo tabungan yang bertambah, padahal di belakang layar utang lo sedang menggerogoti nilai kekayaan bersih lo lebih cepat. Ambil langkah tegas hari ini. Stop dulu pos tabungan gaya hidup, sisakan sedikit untuk dana darurat, dan fokuskan seluruh energi lo untuk melunasi utang konsumtif. Setelah neraca lo bersih, barulah lo bisa menabung dan berinvestasi dengan kecepatan penuh menuju kesejahteraan finansial.

No comments:

Post a Comment