Gaji Wali Asuh Sekolah Rakyat: Cukup Buat Hidup di Jakarta?
Jujur aja, di tengah gempuran cicilan dan harga kebutuhan pokok yang makin nggak santai, gue sering iseng buka-buka lowongan kerja. Bukan karena nggak bersyukur sama gaji UMR lima jutaan yang gue terima tiap bulan, tapi lebih ke rasa was-was. Lo tau sendiri lah, hidup di Jakarta dengan anak satu, gaji segitu rasanya kayak napas pendek-pendek. Masuk rekening tanggal 25, tanggal 5 udah mulai engap.
Nah, pas lagi scrolling di sela-sela jam istirahat kantor atau pas lagi bengong di KRL, gue pernah nemu lowongan atau obrolan tentang posisi "Wali Asuh" di Sekolah Rakyat atau sekolah alternatif.
Jujur, kedengerannya mulia banget. Mengabdi, nemenin anak-anak belajar, ngebentuk karakter. Hati kecil gue yang udah capek disuruh-suruh bos rasanya terpanggil. Tapi otak gue yang isinya tagihan kontrakan dan susu anak langsung teriak, "Woy, makan apa nanti?"
Pertanyaan paling mendasar yang muncul di kepala gue—dan mungkin di kepala lo juga—adalah: sebenernya berapa sih gaji wali asuh sekolah rakyat ini? Apakah cuma sekadar uang transport, atau beneran gaji yang bisa dipake buat bayar listrik dan beli beras?
Gue nulis ini bukan sebagai pakar pendidikan, tapi sebagai sesama karyawan yang itung-itungan duitnya kenceng karena keadaan. Gue coba cari tau, nanya sana-sini, dan ini yang gue temuin soal realita penghasilan di dunia pendidikan alternatif.
Apa Itu Wali Asuh di Sekolah Rakyat? (Versi Kita Aja)
Sebelum ngomongin duit, kita samain persepsi dulu. Wali asuh di sekolah rakyat atau sekolah alam/alternatif itu beda sama guru PNS yang pake seragam kaki.
Kalau gue perhatiin, tugas mereka itu lebih kayak "kakak" atau "orang tua kedua". Mereka nggak cuma berdiri di depan kelas nulis di papan tulis. Mereka nemenin anak main, dengerin curhatan anak, kadang ikut kotor-kotoran di kebun, sampai ngurusin konflik antar murid.
Kerjanya pake hati banget. Dan biasanya, "Sekolah Rakyat" itu identik sama lembaga non-profit, yayasan sosial, atau inisiatif komunitas. Kata kuncinya di sini: Sosial dan Komunitas.
Dari kata kunci itu aja, insting karyawan swasta gue langsung nyala. Biasanya, kalau ada embel-embel sosial, urusan gaji pendamping sekolah rakyat ini seringkali dinomorduakan dibanding "pengabdian". Tapi mari kita liat angkanya.
Bedah Nominal: Berapa Kisaran Gajinya?
Ini bagian yang paling lo tunggu. Berdasarkan info yang gue kumpulin dari obrolan warung kopi dan forum diskusi, angkanya variatif banget. Tapi gue coba kasih gambaran realistis biar lo nggak kaget.
Untuk wilayah Jabodetabek, kisaran gaji wali asuh sekolah rakyat itu rata-rata ada di angka Rp 2.000.000 sampai Rp 4.500.000 per bulan.
"Lah, kok rentangnya jauh banget, Bang?"
Iya, karena status sekolahnya ngaruh banget.
Kalau sekolah rakyatnya bener-bener murni gerakan sosial yang dananya dari donasi serabutan, jangan kaget kalau honor wali asuh sekolah rakyat yang diterima cuma di angka 1,5 sampai 2 juta. Itu pun kadang telat cair kalau donatur lagi sepi. Buat gue yang tiap bulan harus setor uang kontrakan 1,5 juta, angka segitu jelas bikin keringet dingin.
Tapi, ada juga sekolah rakyat atau sekolah alternatif yang manajemennya udah rapi. SPP muridnya lumayan (biasanya target pasar orang tua idealis kelas menengah), dan yayasannya kuat. Di tempat kayak gini, gajinya bisa nyentuh UMR Jakarta atau sekitarnya, sekitar 4 sampai 5 juta. Bahkan ada tunjangan kesehatan ala kadarnya.
Cuma ya itu, lowongan di tempat yang "mapan" ini saingannya ketat. Dan biasanya mereka nyari yang background-nya psikologi atau pendidikan, bukan orang kantoran nyasar kayak gue.
Faktor yang Bikin Gaji Beda-Beda
Kenapa angkanya bisa beda jauh? Ini penting buat lo pertimbangin kalau lo emang niat terjun ke sini.
Pertama, Sumber Dana Sekolah. Ini paling krusial. Sekolah rakyat beda sama sekolah negeri yang dapet dana BOS rutin atau sekolah swasta mahal. Kalau sekolahnya idup dari patungan warga, ya penghasilan wali asuh sekolah rakyat bakal menyesuaikan isi kas warga. Kalau kas kosong, ya puasa dulu.
Kedua, Jam Kerja. Ada wali asuh yang sifatnya full time, dari pagi sampe sore nemenin anak. Ini yang gajinya bisa mendekati UMR. Tapi banyak juga yang sifatnya part time atau relawan berbayar. Dateng seminggu 3 kali, gajinya hitungan per kehadiran atau transport.
Ketiga, Lokasi. Sekolah rakyat di Jakarta Selatan sama sekolah rakyat di pinggiran Bogor pasti beda standarnya. Biaya hidup di lokasi sekolah itu berada biasanya jadi patokan mereka nentuin honor.
Bandingkan dengan Kerja Kantoran Gaji UMR
Sekarang, mari kita pake kalkulator emak-emak. Kita bandingin sama gaji UMR 5 juta yang kita terima sekarang.
Di kantor: Gaji 5 juta. Masuk jam 8 pulang jam 5 (kalau nggak lembur). Ditekan target, dimarahin bos, kena macet. Tapi tanggal 25 pasti cair, ada BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan buat anak istri aman.
Jadi Wali Asuh: Anggaplah dapet yang lumayan, gaji 3,5 juta. Kerja lebih "manusiawi", deket sama alam, hati seneng liat anak ketawa. Stress berkurang drastis. Tapi... selisih 1,5 juta dari gaji kantor itu gede banget, Bro.
1,5 juta itu setara biaya belanja sayur dan lauk istri gue sebulan. Atau setara bayar cicilan motor plus listrik. Kalau gue pindah jadi wali asuh dengan gaji segitu, gue harus muter otak nyari tambalan 1,5 juta tiap bulan.
Kalau lo masih single, mungkin selisih itu bisa diakali dengan ngekos yang lebih murah atau kurangin nongkrong. Tapi buat gue yang udah berkeluarga, gaji wali asuh sekolah rakyat di angka segitu butuh pertimbangan yang super matang. Nggak bisa cuma modal "panggilan jiwa".
Gue pernah nulis soal gimana pusingnya mengatur gaji 5 juta biar cukup sebulan. Nah, kalau angkanya turun jadi 3 jutaan, itungannya bakal beda total dan pasti lebih nyesek.
Cocok Nggak Buat Orang Berkeluarga?
Ini opini jujur gue. Apakah kerjaan ini cocok buat tulang punggung keluarga?
Jawabannya: Tergantung kondisi pasangan lo.
Kalau istri atau suami lo juga kerja dan gajinya lumayan, jadi wali asuh bisa jadi pilihan karier yang menenangkan. Lo nggak ngejar duitnya, tapi ngejar keberkahannya dan ketenangan batinnya. Kekurangan di dapur bisa ditutup sama pasangan.
Tapi kalau lo single fighter alias satu-satunya sumber duit di rumah kayak gue, jadi wali asuh di sekolah rakyat yang gajinya di bawah UMR itu risikonya tinggi. Kecuali, lo punya kerja sampingan karyawan yang hasilnya stabil.
Misalnya, paginya jadi wali asuh, malemnya lo jualan online atau jadi freelancer desain. Kalau digabung penghasilannya bisa nutup kebutuhan, ya gas aja. Tapi kalau cuma ngandelin gaji dari sekolah rakyat doang, gue takut lo malah stres di rumah karena ditagih istri soal uang belanja yang kurang.
Jangan sampai niat mulia mendidik anak orang lain, malah bikin anak sendiri di rumah kurang gizi. Itu prinsip gue.
Realita di Lapangan: Bukan Cuma Soal Uang
Satu hal lagi yang gue denger dari temen yang pernah nyoba. Jadi wali asuh itu capek fisiknya beda sama orang kantor.
Orang kantor capek pikiran, duduk seharian. Wali asuh itu capek badan. Lari-larian, teriak-teriak, ngurusin emosi anak yang naik turun. Kalau lo nggak biasa, pulang ke rumah bisa langsung tepar.
Dan inget, karena ini basisnya komunitas, kadang batas antara kerjaan dan kehidupan pribadi jadi blur. Lo mungkin bakal sering diganggu di luar jam kerja buat ngurusin masalah murid atau kegiatan sekolah di akhir pekan. Jadi, hitung juga "biaya waktu" yang bakal kepake.
Pilihan Hidup dan Prioritas
Kesimpulannya, gaji wali asuh sekolah rakyat itu emang rata-rata nggak bikin kaya. Nominalnya seringkali di bawah standar gaji korporat Jakarta. Tapi, "kekayaan" yang ditawarkan emang beda bentuknya.
Buat lo yang masih muda, belum banyak tanggungan, atau emang punya jiwa sosial tinggi dan nggak terlalu pusing soal gaya hidup, ini bisa jadi pengalaman emas.
Tapi buat kita, bapak-bapak UMR yang tiap bulan deg-degan liat meteran listrik, harus realistis. Kalau emang pengen banget terjun ke dunia ini, pastiin dulu fondasi keuangan di rumah aman. Atau, jadiin ini kegiatan sampingan di akhir pekan dulu sebagai relawan.
Nggak ada yang salah kok tetep bertahan di kerjaan kantor yang membosankan demi susu anak, sambil sesekali bantu-bantu di sekolah rakyat pas libur. Hidup itu soal keseimbangan, Bro. Jangan sampai kapal oleng karena kita maksa ngejar idealisme tapi lupa realita dapur.
Semoga tulisan ini ngebantu lo yang lagi galau mau banting setir atau sekadar penasaran. Tetap semangat cari rezeki, di mana pun ladangnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar