Kapok Pakai Paylater! Ini Kisah Horor Terjerat Bunga dan Cara Saya Bebas

 

Ilustrasi seseorang yang merasa stres dan tertekan melihat tumpukan tagihan paylater yang panjang dengan latar belakang simbol bunga persen yang besar.

Ada pepatah modern yang berbunyi: "Beli sekarang, bayar nanti, menangis kemudian."

Kalimat itu terdengar lucu sampai lo sendiri yang mengalaminya. Saya pernah ada di posisi itu. Merasa kaya mendadak karena punya limit Paylater puluhan juta di aplikasi belanja, tapi berakhir makan mie instan di akhir bulan karena gaji habis cuma buat bayar cicilan.

Banyak orang mengira fitur Buy Now Pay Later (BNPL) adalah pahlawan penolong saat dompet tipis. Padahal, tanpa literasi keuangan yang benar, fitur ini bisa berubah menjadi "rentenir digital" yang siap memangsa masa depan finansial lo.

Artikel ini bukan untuk menghakimi lo yang masih pakai Paylater. Ini adalah pengakuan dosa saya, sebuah kisah horor tentang bagaimana kemudahan berutang bisa menjebak, dan strategi yang saya pakai untuk akhirnya bisa tidur nyenyak lagi tanpa tagihan.

Fase Bulan Madu: Jebakan "Cuma 50 Ribu Sebulan"

Semuanya dimulai dengan sangat polos. Saat itu ada promo cashback besar-besaran kalau bayar pakai Paylater. Saya pikir, "Ah, cuma beli headset harga 200 ribu, cicilannya ringan banget."

Klik. Transaksi berhasil. Barang sampai. Saya senang.

Masalah utama Paylater bukan pada bunganya di awal, tapi pada psikologis kita. Paylater memutus rasa "sakit" saat mengeluarkan uang (Pain of Paying). Karena tidak ada uang tunai yang keluar dari rekening saat itu juga, otak kita menganggap barang itu "gratis".

Dari headset, naik ke sepatu lari. Dari sepatu, naik ke smartphone baru. "Kan cicilannya cuma 300 ribu sebulan," pikir saya waktu itu. Saya lupa bahwa jika ada 5 cicilan yang masing-masing "cuma 300 ribu", totalnya adalah 1,5 juta rupiah. Itu hampir setengah dari sisa gaji bersih saya (disposable income).

Teror Dimulai: Hantu Bernama "Biaya Layanan"

Horor yang sebenarnya baru terasa di bulan ke-6. Saat itu saya butuh dana darurat karena motor rusak, tapi gaji saya sudah habis otomatis terpotong tagihan Paylater.

Saya iseng menghitung total uang yang sudah saya bayarkan untuk sebuah HP seharga Rp 5.000.000. Mari kita bedah hitungannya (ini yang jarang orang sadari):

  • Harga Asli Barang: Rp 5.000.000

  • Bunga per bulan (misal 2,95%): Rp 147.500

  • Biaya Layanan/Admin (1% per transaksi): Rp 50.000

  • Tenor: 12 Bulan.

Total yang harus saya bayar: Rp 5.000.000 + (Rp 197.500 x 12) = Rp 7.370.000. Ada selisih Rp 2.370.000!

Dua juta lebih uang saya hangus begitu saja hanya untuk "biaya kemudahan". Bayangkan jika uang 2 juta itu saya masukkan ke instrumen Investasi Saham Blue Chip, mungkin nilainya sudah bertumbuh. Di sinilah saya sadar, Paylater itu mahal banget. Bunga yang terlihat kecil (2-3%) per bulan, jika disetahunkan (efektif) bisa mencapai 30-40%. Jauh di atas bunga kartu kredit.

Efek Domino: Gali Lubang Tutup Lubang

Kondisi makin parah ketika saya telat bayar satu hari. Denda keterlambatan langsung menghantam. Notifikasi WhatsApp mulai berisik menagih pembayaran.

Stres? Pasti. Panik? Banget. Kesalahan terbesar orang di posisi ini adalah mencari utang baru untuk menutup utang lama. Jangan pernah lakukan ini! Mengambil pinjaman online lain untuk menutup Paylater adalah awal dari kehancuran total.

Sadar bahwa saya sedang berjalan menuju jurang kebangkrutan pribadi, saya memutuskan untuk mengerem mendadak. Enough is enough.

Strategi "Operasi Senyap" Melunasi Utang

Saya menyusun rencana perang untuk lepas dari jeratan ini. Berikut langkah taktis yang saya lakukan dan berhasil:

1. Stop Menambah Utang Baru (Cold Turkey)

Langkah pertama dan terberat: Saya menghapus aplikasi e-commerce dari halaman depan HP. Saya berjanji, selama tagihan belum lunas, saya haram membeli barang apapun selain kebutuhan pokok (makan & sabun).

2. Metode Bola Salju (Debt Snowball)

Saya mencatat semua cicilan Paylater saya. Ada 4 cicilan aktif saat itu. Saya urutkan dari yang sisa pokok hutangnya paling kecil. Fokus saya adalah melunasi yang paling kecil ini secepat mungkin (pakai uang sisa jajan/lemburan), sementara yang lain bayar minimum dulu. Begitu satu lunas, saya punya dana lebih untuk menyerang utang terkecil kedua. Rasanya sangat memuaskan melihat satu per satu daftar utang itu dicoret.

3. Jual Aset yang Masih Layak

Ingat HP yang saya beli pakai Paylater itu? Saya jual rugi. Sakit memang. Beli 5 juta, jual cuma laku 3,5 juta. Tapi uang tunai 3,5 juta itu langsung saya pakai untuk menembak mati sebagian besar tagihan. Lebih baik kehilangan barang daripada kehilangan ketenangan hidup dikejar Debt Collector.

4. Audit Gaya Hidup

Saya menyadari akar masalahnya bukan Paylater-nya, tapi gaya hidup boros saya. Saya mulai belajar Cara Mengatur Keuangan Bulanan dengan metode 50/30/20. Saya sadar bahwa saya membeli barang-barang itu bukan karena butuh, tapi karena ingin terlihat keren (validasi sosial).

Hidup Setelah "Uninstal"

Setelah 5 bulan berdarah-darah (makan irit, nggak nongkrong), akhirnya notifikasi itu muncul: "Tagihan Anda Lunas."

Rasanya seperti baru keluar dari penjara. Lega luar biasa. Detik itu juga, saya mengajukan penutupan akun Paylater secara permanen. Saya tidak mau tergoda lagi.

Sekarang, kalau saya mau beli sesuatu, saya pakai rumus kuno: Nabung Dulu, Beli Kemudian. Kalau uangnya belum cukup? Ya berarti saya belum mampu. Sesederhana itu. Ternyata, membeli barang tunai memberikan kepuasan batin yang jauh lebih besar karena barang itu 100% milik saya, bukan milik aplikasi pinjaman.

So, Paylater Itu Alat - Bukan Uang Tambahan

Saya tidak bilang Paylater itu haram atau jahat mutlak. Bagi mereka yang punya disiplin baja dan cashflow lancar, fitur ini bisa membantu. Tapi bagi mayoritas kita yang masih sulit membedakan keinginan dan kebutuhan, Paylater adalah perangkap kemiskinan yang manis.

Jangan biarkan masa muda lo habis cuma buat kerja keras membiayai bunga bank. Sayangi jerih payah lo. Lebih baik hidup sederhana tapi tidur nyenyak, daripada gaya selangit tapi dikejar tagihan.

Kalau lo sekarang sedang terjebak, jangan putus asa. Mulai cicil pelunasan hari ini, berhenti nambah utang, dan rebut kembali kebebasan finansial lo. Lo pasti bisa.

No comments:

Post a Comment