Gaji Naik atau Cari Kerja Baru? Dilema Karyawan UMR Jakarta

 

Ilustrasi kartun berwarna cerah seorang karyawan pria berwajah bingung berdiri di persimpangan jalan bercabang dua, satu arah ada tulisan "Minta Naik Gaji" ke gedung lama, arah lain tulisan "Cari Kerja Baru" ke gedung baru yang lebih tinggi, dengan latar belakang kota Jakarta.
Hidup di Jakarta dengan gaji di kisaran 5 jutaan itu rasanya kayak lagi ikut lomba lari tapi kaki diiket satu. Mau lari kenceng susah, diem aja ketinggalan. Apalagi kalau status lo udah berkeluarga kayak gue, punya istri dan satu anak yang kebutuhannya gak pernah libur. Pertanyaan soal "Gaji segini cukup gak sih sampai akhir bulan?" itu udah jadi makanan sehari-hari.

Nah, di tengah himpitan cicilan panci sampai token listrik yang bunyi mulu, sering muncul satu pertanyaan besar di kepala kita: "Gue harus gimana nih? Minta gaji naik atau cari kerja baru?". Jawaban singkat gue dari pengalaman pribadi: Kalau lo butuh perubahan nasib yang signifikan dan cepet, cari kerja baru seringkali jadi jawaban yang lebih realistis daripada berharap bos lo tiba-tiba kesambet jin baik hati dan naikin gaji lo gede-gedean.

Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru ketik surat resign. Keputusan ini gak sesimpel milih menu makan siang di warteg. Ada banyak hal yang harus lo pertimbangin, terutama kalau lo gak punya dana darurat yang tebel buat nahan guncangan kalau salah langkah. Gue nulis ini biar lo gak kejeblos di lubang yang sama kayak gue dulu.

Pengalaman Gue: Si Setia yang Babak Belur

Dulu, gue adalah tipe karyawan yang menganut paham "loyalitas tanpa batas". Gue kerja di satu perusahaan hampir 4 tahun. Gaji gue? Ya gitu deh, naik sih tiap tahun, tapi kenaikannya cuma cukup buat beli dua bungkus rokok tambahan sebulan. Gak nendang sama sekali buat ngimbangin harga kontrakan yang naik terus.

Waktu anak pertama gue lahir, kebutuhan meledak. Gue mulai panik. Gaji UMR yang tadinya "pas-pasan" berubah jadi "kurang banget". Gue sempet kepikiran buat minta kenaikan gaji. Tapi nyali gue ciut duluan. Takut dianggap gak bersyukur, takut ditolak, atau lebih parah, takut malah dipecat karena dianggap banyak nuntut.

Akhirnya gue diem aja, berharap kinerja gue dilihat. Hasilnya? Gue malah kejebak utang sana-sini buat nutupin kebutuhan bulanan. (Baca juga cerita pahit gue soal gali lubang tutup lubang di sini: [Gaji Masuk tapi Langsung Habis buat Bayar Utang]). Gue sadar, loyalitas itu gak bisa dipake buat bayar popok anak.

Opsi 1: Bertahan dan Minta Kenaikan Gaji (Jalur Diplomasi)

Ini opsi yang paling aman buat lo yang takut keluar dari zona nyaman atau sebenernya masih betah sama lingkungan kerja sekarang, cuma gak betah sama nominal transferannya aja. Tapi inget, minta naik gaji itu ada seninya.

Jangan Minta Pas Lagi Kepepet Kesalahan terbesar kita adalah minta naik gaji pas kita lagi butuh duit banget. Bos lo gak peduli kontrakan lo naik atau anak lo mau masuk TK. Itu masalah pribadi lo. Minta naik gaji itu harus pas lo punya "kartu as", yaitu pencapaian kerja.

Siapin Data, Bukan Modal Curhat Kalau lo masuk ruangan bos cuma modal tampang melas dan bilang "Pak, saya butuh uang," dijamin 99% ditolak. Lo harus bawa data. Misalnya, "Pak, selama setahun ini saya sudah berhasil ngerjain proyek A dan B yang bikin perusahaan hemat sekian juta. Boleh gak saya minta review gaji?". Tunjukkan nilai lo.

Siap-Siap Kecewa Ini realita pahitnya. Perusahaan biasanya punya standar kenaikan gaji tahunan (misal 5% - 10%). Kalau gaji lo 5 juta, kenaikan 10% itu cuma 500 ribu perak. Lumayan sih, tapi di Jakarta, 500 ribu itu cuma numpang lewat doang kena inflasi. Kalau lo butuh tambahan 2-3 juta buat hidup layak, jalur ini seringkali gak menjawab kebutuhan lo.

Opsi 2: Cabut dan Cari Kerja Baru (Jalur Ekstrem)

Ini jalur yang lebih berisiko, bikin jantung deg-degan, tapi potensi cuannya jauh lebih gede. Gue akhirnya memilih jalur ini setelah sadar kalau bertahan di tempat lama cuma bikin gue makin miskin.

Lonjakan Gaji yang Signifikan Biasanya, kalau kita pindah kerja, standar kenaikan yang bisa kita tawar itu sekitar 20% sampai 30% dari gaji sebelumnya. Bahkan bisa lebih kalau skill lo emang dibutuhin banget. Dari 5 juta, lo bisa loncat ke 6,5 juta atau 7 juta. Kenaikan segini baru kerasa "napas"-nya buat ukuran hidup di Jakarta.

Risiko "Zonk" di Tempat Baru Jangan kira pindah kerja itu isinya pelangi doang. Ada risiko lo gak cocok sama bos baru, budaya kerjanya toxic, atau ternyata load kerjanya gak manusiawi. Belum lagi lo harus lewatin masa percobaan (probation) lagi. Ini bikin stres tersendiri.

Hukum Wajib: Jangan Resign Sebelum Dapet! Ini gue tekenin banget buat kita kaum UMR. Jangan pernah sok ide resign dulu baru nyari kerja, kecuali lo punya tabungan buat hidup 6 bulan (yang mana gue yakin lo gak punya, sama kayak gue). Status pengangguran itu bikin posisi tawar lo lemah pas nego gaji. Cari kerjaan baru pas lo masih berstatus karyawan aktif. Capek emang, harus curi-curi waktu buat interview, tapi itu jauh lebih aman.

Gue Gak Setuju Soal "Ikuti Passion"

Banyak motivator bilang, "Kerjalah sesuai passion, uang akan mengikuti." Sorry to say, buat bapak-bapak beranak satu dengan gaji UMR, teori ini seringkali gak berlaku. Gue agak gak setuju kalau kita disuruh ngejar passion di saat beras di rumah udah mau abis.

Prioritas kita sekarang adalah bertahan hidup dan ngasih makan keluarga. Kalau ada kerjaan yang gajinya lebih gede walaupun gak sesuai passion lo, sikat aja dulu. Passion bisa ditekuni nanti kalau perut udah kenyang dan cicilan udah lunas. Realistis aja, kita butuh uang cash, bukan sekadar kepuasan batin.

Simulasi Sederhana: Mending Mana?

Biar lo ada gambaran jelas, kita coba itung-itungan kasar ya.

Misal gaji lo sekarang Rp 5.000.000. Lo ngerasa butuh tambahan minimal 1,5 juta biar hidup lo agak longgar dan bisa nabung dikit. (Cek tips gue soal ngatur gaji kecil di sini: [Atur Gaji 3 Juta Biar Tetap Bisa Nabung dan Hidup Jalan]).

  • Skenario A (Minta Naik Gaji): Lo sukses nego dan dapet kenaikan luar biasa 15%. Gaji lo jadi Rp 5.750.000. Nambah 750 ribu. Lumayan, tapi target lo yang butuh 1,5 juta belum kecapai. Lo masih harus ngiket perut.

  • Skenario B (Pindah Kerja): Lo dapet tawaran di tempat baru dengan kenaikan standar 30%. Gaji lo jadi Rp 6.500.000. Nambah 1,5 juta. Target tercapai. Hidup lo sedikit lebih tenang.

Dari simulasi ini jelas kan? Kalau lo cuma butuh tambahan dikit buat jajan bakso, minta naik gaji mungkin cukup. Tapi kalau lo butuh perubahan taraf hidup, cari kerja baru adalah jalan ninjanya.

Jangan Mengambil Keputusan Saat Emosi

Memilih antara minta gaji naik atau cari kerja baru itu emang bikin pusing. Saran terakhir gue: jangan ambil keputusan pas lo lagi emosi. Misalnya abis dimarahin bos, terus lo langsung buka situs lowongan kerja. Itu bahaya.

Ambil keputusan pas kepala lo dingin. Hitung kebutuhan lo bener-bener. Kalau lo milih bertahan, susun strategi buat naikin value diri lo biar pantes minta naik gaji. Kalau lo milih pindah, perbaiki CV lo dan mulai tebar jaring dari sekarang.

No comments:

Post a Comment