Cuma Pinjam 500 Ribu, Hidup Jadi Ribet Gara-gara Pinjol
Sebagai sesama pejuang UMR Jakarta dengan gaji lima koma sekian, gue paham banget rasanya ketika tanggal tua menyerang. Gaji numpang lewat buat bayar kontrakan, listrik, dan susu anak. Tiba-tiba, di pertengahan bulan ada kebutuhan mendesak. Entah itu ban motor bocor harus ganti, anak demam butuh ke dokter, atau kondangan temen deket yang gak mungkin dilewatin. Nominalnya gak besar, mungkin cuma butuh dana talangan sekitar 300 sampai 500 ribu rupiah. Tapi di saat dompet udah tipis, uang segitu rasanya gede banget.
Di saat kepepet itulah, setan bernama pinjaman online atau pinjol legal maupun ilegal mulai melambai-lambai di layar HP. Iklannya manis banget: "Cuma butuh KTP, cair dalam 5 menit, bunga rendah". Siapa yang gak tergiur? Gue salah satunya. Gue pernah ada di posisi itu. Gue pikir, "Ah, cuma pinjam 500 ribu pinjol, masa sih gak bisa balikin pas gajian?". Ternyata, pemikiran sesederhana itu adalah awal dari keribetan hidup gue selama berbulan-bulan ke depan.
Gue menulis ini bukan sebagai orang yang sukses bebas finansial. Gue menulis ini sebagai sesama karyawan biasa yang pernah kejeblos lubang yang sama, biar lo gak perlu ngerasain pusingnya kayak gue dulu.
Awal Mula Jebakan Betmen Recehan
Ceritanya klasik. Waktu itu anak gue sakit dan butuh ditebus obatnya yang gak tercover BPJS, sekitar 400 ribuan. Gaji masih seminggu lagi. Mau minjem temen kantor malu, takut diomongin. Mau minta orang tua di kampung lebih gak mungkin lagi.
Akhirnya, dengan modal nekat dan sedikit panik, gue download salah satu aplikasi pinjol yang iklannya sering muncul di YouTube. Prosesnya cepet banget, asli gak bohong. Foto KTP, foto selfie, isi data kerjaan (gue isi karyawan swasta gaji UMR), masukin nomor rekening. Gak nyampe 10 menit, ada notifikasi transfer masuk.
Lega? Banget. Masalah hari itu selesai. Obat anak kebeli. Gue ngerasa pinjol ini penyelamat hidup gue. Gue mengajukan pinjaman 600 ribu, tapi yang cair ke rekening cuma sekitar 540 ribu karena ada potongan biaya admin di muka. Tenornya 14 hari. Gue pikir aman lah, pas gajian nanti langsung gue lunasin.
Tapi di situlah letak kesalahannya. Gue meremehkan nominal yang "cuma" ratusan ribu itu. Gue lupa kalau hidup dengan gaji UMR Jakarta yang pas-pasan itu penuh kejutan tak terduga.
Bunga Harian yang Bikin Senewen
Masuk hari ke-10, gue iseng cek aplikasi. Gue kaget bukan main melihat jumlah yang harus dibayar. Pokok pinjaman 600 ribu (padahal yang gue terima 540 ribu), ditambah bunga berjalan selama 10 hari. Totalnya sudah hampir 700 ribu.
Gue mulai panik. Gue hitung-hitung lagi anggaran gajian nanti. Kalau gue bayar 700 ribu buat pinjol ini, berarti jatah belanja bulanan istri bakal kepotong signifikan. Bakal ada pos lain yang jadi korban, mungkin listrik atau transport gue kerja.
Ini yang sering kita gak sadar. Kita fokus sama nominal yang kita terima (cuma 500 ribuan), tapi lupa sama nominal yang harus dibalikin plus bunga dan biaya layanan yang gak masuk akal. Bunga pinjol itu hitungannya harian, Bro. Lo telat sehari aja, dendanya jalan terus kayak taksi argo kuda.
Teror Mental yang Gak Sebanding Sama Uangnya
Singkat cerita, gajian turun. Tapi ternyata ada kebutuhan lain yang lebih mendesak yang gak bisa ditunda. Akhirnya gue telat bayar pinjol itu dua hari dari tanggal jatuh tempo.
Di sinilah neraka yang sebenernya dimulai.
Awalnya cuma diingetin lewat WA bot. Masih sopan. Masuk hari ketiga telat, mulai ada telepon. Sehari bisa 5 sampai 10 kali telepon dari nomor berbeda-beda. Gue lagi kerja, lagi meeting sama bos, HP getar terus. Konsentrasi buyar.
Gue angkat sekali, nadanya mulai tinggi. "Bapak sudah telat 3 hari, tolong segera dibayarkan hari ini juga sebelum jam 12 siang. Kalau tidak data Anda kami proses." Ancaman "diproses" itu bikin gue parno. Gue takut mereka nelpon ke kantor (karena ada nomor telepon kantor di data pengajuan) atau nelpon ke kontak darurat yang ternyata nomor istri gue.
Hidup gue jadi gak tenang. Setiap ada telepon masuk dari nomor gak dikenal, jantung gue deg-degan. Gue jadi sering uring-uringan di rumah. Istri nanya kenapa, gue gak berani jawab jujur karena malu. Cuma gara-gara pinjam 500 ribu pinjol, kedamaian rumah tangga gue jadi taruhannya.
Rasanya gak sebanding banget. Uang 500 ribu yang cuma numpang lewat buat beli obat, tapi bayarannya adalah kesehatan mental gue selama berminggu-minggu.
Gue Gak Setuju Kalau Pinjol Itu Solusi Karyawan Kecil
Banyak yang bilang, "Pinjol itu membantu kalau kita bijak menggunakannya dan bayar tepat waktu." Itu teori. Kenyataannya di lapangan, buat kita yang gajinya UMR dan punya tanggungan keluarga, "bayar tepat waktu" itu kadang jadi hal yang mewah.
Gue gak setuju kalau dibilang pinjol adalah solusi keuangan buat rakyat kecil. Menurut pengalaman gue, pinjol itu justru didesain buat bikin kita yang ekonominya pas-pasan ini makin kejerat. Mereka tau kita butuh dana cepat dan gak punya akses ke bank. Mereka memanfaatkan kepanikan kita dengan ngasih kemudahan di awal, tapi nyekek di akhir.
Sistem bunga harian dan potongan admin yang gede di awal itu sangat merugikan. Itu bukan menolong, tapi memanfaatkan kesusahan orang.
Simulasi Sederhana: Gali Lubang Tutup Lubang
Biar lo ada gambaran gimana bahaya pinjaman online ini bekerja, gue kasih simulasi sederhana dari pengalaman gue.
Pinjam di Aplikasi A: Butuh 500 ribu. Ajukan 600 ribu. Cair 540 ribu.
Jatuh Tempo: Harus bayar 750 ribu (pokok + bunga + denda telat beberapa hari).
Gak Ada Uang: Karena gaji kepake kebutuhan lain, gue panik diteror DC.
Pinjam di Aplikasi B: Gue pinjam di pinjol lain buat nutup Aplikasi A. Minjem 1 juta, cair 900 ribu.
Bayar Aplikasi A: Uang 900 ribu dipake bayar 750 ribu ke Aplikasi A. Lunas sementara. Sisa 150 ribu kepake jajan.
Masalah Baru: Sekarang gue punya utang di Aplikasi B sebesar 1,2 juta (pokok + bunga nanti) yang jatuh tempo 2 minggu lagi.
Lihat polanya? Dari yang tadinya cuma butuh 500 ribu, dalam sebulan gue punya kewajiban utang di atas 1 juta. Ini yang namanya gali lubang tutup lubang. Dan percayalah, lubangnya makin lama makin dalem. Gue hampir setahun terjebak di siklus ini sampai akhirnya gaji gue abis cuma buat bayar bunga pinjol doang. (Baca juga pengalaman gue lepas dari jeratan utang besar di sini: [Cara Melunasi Utang 50 Juta Gaji UMR]).
Berhenti Sebelum Terlambat
Gue akhirnya bisa lepas setelah jujur sama istri. Kita jual beberapa barang di rumah buat ngelunasin semua pinjol dan tutup aplikasinya. Malu banget rasanya, tapi itu langkah yang harus diambil.
Buat lo yang sekarang lagi mikir mau pinjam 500 ribu pinjol buat nambalin kebutuhan hidup, tolong pikir ulang seribu kali.
Lebih baik lo tahan malu pinjem ke saudara atau temen deket. Bilang aja jujur kondisinya. Kalaupun ditolak, paling cuma malu sebentar, gak bakal diteror telepon tiap jam. Atau lebih baik lagi, coba jual barang yang gak kepake di rumah. Gadai HP atau barang elektronik juga masih lebih mending daripada kena bunga harian pinjol.
Jangan gadaikan ketenangan hidup lo dan keluarga cuma demi uang receh yang cepat cair. Menjadi "kere" seminggu menjelang gajian itu jauh lebih terhormat dan menenangkan daripada terlihat punya uang tapi dikejar-kejar debt collector online. Trust me, it's not worth it.

No comments:
Post a Comment