Biaya Hidup di Luar Jakarta: Murah Tapi Ada Syaratnya
Jujur aja, tiap tanggal tua sambil ngeliatin slip gaji yang angkanya lima koma sekian juta, gue sering banget ngehalu. Pikiran gue melayang ke luar jendela kantor, ngebayangin gimana rasanya kalau gue gak tinggal di Jakarta.
Gue capek, Bro. Capek sama macetnya Tendean, capek desak-desakan di KRL Manggarai, dan paling capek liat harga kontrakan petakan yang makin gak ngotak. Gaji UMR Jakarta rasanya cuma numpang lewat doang di rekening. Buat bayar kontrakan, listrik, susu anak, sama ongkos kerja, sisa di tangan tinggal recehan buat makan warteg.
Makanya, topik soal biaya hidup di luar Jakarta itu selalu jadi obrolan seksi di tongkrongan gue sama temen-temen senasib. Kita sering banget banding-bandingin. "Kayaknya di Jogja enak ya, makan murah," atau "Di Solo katanya dua juta udah bisa hidup layak."
Tapi, apakah semudah itu? Apa bener pindah dari Jakarta otomatis bikin dompet kita langsung tebel? Gue mencoba nulis ini bukan sebagai pakar ekonomi, tapi sebagai sesama karyawan UMR yang lagi menimbang-nimbang masa depan keluarga kecil gue.
Ekspektasi vs Realita Pindah ke Daerah
Gue punya temen kantor, sebut aja namanya Dimas. Dia nekat resign tahun lalu dan boyongan sama anak istrinya balik ke kampung halamannya di Jawa Tengah, di sebuah kota kabupaten yang gak terlalu gede.
Waktu masih di Jakarta, ekspektasi Dimas tinggi banget. Dia mikir dengan tabungan dia yang pas-pasan hasil kerja di ibu kota, dia bakal jadi "raja kecil" di kampung. Dia ngebayangin biaya hidup di daerah yang super murah, bisa makan enak tiap hari, dan sisa uangnya bisa ditabung buat beli sawah.
Enam bulan kemudian, gue telponan sama dia. Suaranya gak seoptimis pas mau pindah.
"Gak semurah yang gue kira, Bro," katanya.
Ternyata, ekspektasi kita soal hidup murah di daerah itu seringkali kejebak sama "wisata masa lalu". Kita inget harga nasi pecel lima ribu perak waktu kita liburan ke sana sepuluh tahun lalu. Padahal sekarang, di daerah pun inflasi jalan terus.
Realitanya, kalau lo mau standar hidup yang sama persis kayak di Jakarta tiap weekend ngemall, anak jajan snack impor, ngopi di kafe kekinian, biayanya bakal sebelas dua belas. Bahkan bisa lebih mahal karena barangnya langka.
Bedah Pos Pengeluaran Utama
Biar lebih jelas, mari kita bedah satu-satu pos pengeluaran utama kalau kita memutuskan buat cabut dari Jakarta. Ini berdasarkan riset kecil-kecilan gue nanya temen-temen yang udah nyebar di berbagai daerah.
Kontrakan dan Tempat Tinggal
Ini juara umumnya. Harus gue akui, di sektor ini Jakarta kalah telak.
Di Jakarta, dengan budget 1,5 juta sampai 2 juta, gue cuma dapet kontrakan petakan sempit di gang senggol, atau apartemen subsidi di pinggiran yang ongkos ke kantornya bikin nangis.
Di kota-kota kecil di Jawa Tengah atau Jawa Timur, uang 1,5 juta itu lo udah bisa ngontrak satu rumah napak tanah. Ada halaman buat anak main, kamar dua, dan gak perlu rebutan parkir motor sama tetangga. Kalau lo punya rezeki lebih dan bisa beli rumah, harga tanahnya juga masih jauh lebih masuk akal dibanding Jabodetabek. Ini poin plus banget buat kita yang udah berkeluarga.
Urusan Perut
Nah, ini nih yang sering tricky. Banyak yang bilang hidup di luar Jakarta itu enak karena makannya murah. Pernyataan ini bener, tapi ada syarat dan ketentuannya.
Makan akan jadi jauh lebih murah kalau: lo mau masak sendiri di rumah pake bahan dari pasar tradisional, atau lo mau makan di warung makan lokal yang target pasarnya warga sekitar.
Tapi, kalau lidah lo dan keluarga udah terbiasa sama fast food franchise internasional atau restoran di mall, harganya sama aja, Bro. Harga paket ayam goreng di restoran cepat saji di Jakarta sama di Malang ya gak beda jauh.
Apalagi buat kita yang punya anak kecil. Kebutuhan susu formula, popok sekali pakai, dan bubur bayi instan itu harganya standar nasional. Gak ada ceritanya popok merk A di daerah harganya setengah dari harga Jakarta.
Transportasi
Di Jakarta, gue bisa mengandalkan Transjakarta atau KRL yang murah meriah, meskipun harus bayar pake keringet dan kesabaran. Gue gak wajib punya kendaraan pribadi kalau cuma buat ngantor.
Di banyak daerah di luar Jakarta, transportasi umum itu barang langka. Angkotnya jarang, jam operasionalnya gak jelas, atau rutenya gak menjangkau area perumahan.
Artinya apa? Punya motor itu wajib. Kalau udah berkeluarga, mungkin kepikiran punya mobil kecil. Ini nambah biaya lagi. Biaya bensin, servis rutin, dan pajak kendaraan harus masuk hitungan. Di daerah, jarak antar tempat bisa jadi jauh-jauh dan lo gak punya pilihan selain naik kendaraan pribadi.
Yang Gak Lebih Murah di Luar Jakarta
Ini penting banget buat dicatet. Jangan anggap semua di daerah itu diskon. Ada beberapa hal yang harganya sama aja, atau malah lebih mahal.
Pertama, pulsa dan paket data internet. Ini harganya nasional. Lo tinggal di Jakarta Selatan atau di pelosok Kalimantan, harga kuota 10GB dari provider yang sama ya segitu-gitu aja. Padahal buat kita sekarang, internet itu udah kayak kebutuhan pokok.
Kedua, barang elektronik dan fashion branded. Kalau lo mau beli HP keluaran terbaru atau sepatu merk tertentu, harganya sama. Malah di daerah pilihannya lebih sedikit. Kalau barangnya gak ada di toko lokal, lo harus beli online dan kena ongkos kirim yang lebih mahal dari Jakarta.
Ketiga, listrik. Token listrik PLN itu tarifnya sama se-Indonesia. Kalau gaya hidup lo boros listrik—AC nyala terus, sering pake mesin cuci—tagihannya bakal sama nyekeknya kayak di Jakarta.
Pertimbangan Buat yang Udah Berkeluarga
Buat gue yang udah punya buntut satu, pertimbangan pindah gak cuma soal duit. Ada faktor lain yang lebih krusial.
Kualitas pendidikan dan kesehatan. Di Jakarta, pilihan sekolah dari yang murah sampai yang mahal banget ada semua. Rumah sakit lengkap dengan dokter spesialis gampang dicari.
Di daerah, pilihannya mungkin gak sebanyak itu. Kalau lo mau anak lo masuk sekolah dengan fasilitas setara sekolah swasta bagus di Jakarta, lo mungkin harus bayar mahal juga di sekolah internasional atau swasta favorit di kota tersebut.
Kalau ada anggota keluarga yang punya penyakit khusus, akses ke dokter spesialis juga jadi pertimbangan. Jangan sampai hemat biaya kontrakan tapi malah boncos di ongkos berobat ke kota besar.
Ini juga nyambung sama gimana kita harus pinter-pinter mengatur gaji UMR di manapun kita tinggal, biar pos-pos penting kayak kesehatan dan pendidikan anak gak terganggu.
Murah Itu Relatif, Gaya Hidup Kuncinya
Setelah ngalor-ngidul mikirin ini, gue sampai pada satu kesimpulan: anggapan bahwa tinggal di luar jakarta lebih murah itu gak sepenuhnya salah, tapi juga gak sepenuhnya bener.
Kuncinya ada di adaptasi gaya hidup.
Kalau lo pindah ke daerah tapi masih nenteng gaya hidup anak Jaksel—tiap sore ngopi artisan, weekend harus staycation—ya gaji lo bakal abis juga. Malah mungkin lo bakal lebih stres karena gajinya gak sebesar Jakarta tapi pengeluarannya maksa tinggi.
Tapi kalau lo siap untuk hidup lebih 'slow', menikmati masak di rumah, hiburannya main ke alun-alun kota atau wisata alam yang murah, maka pindah ke luar Jakarta bisa jadi penyelamat finansial lo. Lo jadi punya ruang napas buat nabung dana darurat atau investasi kecil-kecilan.
Kesimpulan
Buat lo yang sekarang lagi di posisi sama kayak gue, yang lagi menimbang-nimbang buat angkat kaki dari ibu kota demi hidup yang lebih waras, saran gue cuma satu: riset yang dalem.
Jangan cuma modal nekat atau "katanya si A". Coba cuti, dateng ke kota yang lo taksir, tinggal di sana seminggu bukan sebagai turis, tapi coba belanja di pasarnya, coba naik angkotnya, coba liat sekolahnya.
Pindah dari Jakarta itu bukan solusi ajaib yang bikin semua masalah keuangan lo selesai. Itu cuma pindah medan perang aja. Di Jakarta musuhnya macet dan biaya kontrakan, di daerah musuhnya mungkin gaji yang lebih kecil dan fasilitas yang terbatas. Pilih medan perang yang paling sanggup lo hadapin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar